/* ===================== ===================== */Harga Emas Spot Masih Dibayangi Sentimen Geopolitik dan Tekanan Makroekonomi global
Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Spot Masih Dibayangi Sentimen Geopolitik dan Tekanan Makroekonomi global

×

Harga Emas Spot Masih Dibayangi Sentimen Geopolitik dan Tekanan Makroekonomi global

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Spot
harga emas spot berada di level US$ 4.709,50 per ons troi atau naik 0,33% dari sehari sebelumnya. Namun, dalam sepekan harga emas turun 2,57% dilansir dari data Bloomberg,.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (24/4/2026) harga emas spot berada di level US$ 4.709,50 per ons troi atau naik 0,33% dari sehari sebelumnya. Namun, dalam sepekan harga emas turun 2,57% dilansir dari data Bloomberg,.

Baca Juga  Harga Emas Spot Cenderung Stabil Bertengger di Level US$4.697 Per Ons

Prospek harga emas spot masih dibayangi tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan tekanan makroekonomi global.

Di tengah ketegangan yang berlanjut di Selat Hormuz, pergerakan harga logam mulia justru cenderung volatil.

Baca Juga  Ketegangan AS–Iran Picu Harga Emas Spot Bangkit dari Titik Terendah

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini menghadirkan paradoks bagi emas.

Di satu sisi, emas diuntungkan oleh statusnya sebagai safe haven seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Namun di sisi lain, lonjakan harga energi yang dipicu konflik justru meningkatkan risiko inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

“Lonjakan harga energi menjadi pedang bermata dua. Ini memperkuat narasi suku bunga tinggi, yang pada akhirnya menekan emas,” ujar Sutopo.

Secara teknikal, pergerakan emas yang mendekati level US$ 4.700 per ons mencerminkan tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,31%.

Kondisi ini membatasi ruang kenaikan emas meskipun premi risiko akibat konflik masih tinggi.

Ke depan, Sutopo melihat harga emas berisiko melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek.

Hal ini terutama jika tensi geopolitik mereda secara tiba-tiba atau terdapat kemajuan konkret dalam proposal perdamaian Iran.

Selain itu, pasar juga mencermati dinamika kebijakan moneter AS, termasuk isu pencalonan Kevin Warsh di bank sentral AS yang dinilai memberi sinyal independensi dalam menjaga stabilitas moneter.

Jika data ekonomi seperti PMI dan klaim pengangguran AS tetap solid, ekspektasi kenaikan suku bunga akan semakin menguat.

“Secara historis, kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil,” imbuhnya.

Untuk prospek semester I 2026, Sutopo memproyeksikan harga emas akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup lebar, yakni US$ 4.500 hingga US$ 4.900 per ons.

Dalam kondisi volatile seperti saat ini, ia menyarankan investor untuk mengedepankan strategi wait and see atau melakukan akumulasi secara bertahap di area support teknikal.

Menurutnya, setelah harga emas terkoreksi sekitar 10% sejak awal konflik, fokus pasar kini mulai bergeser.

“Perhatian investor tidak lagi semata pada eskalasi perang, tetapi juga pada bagaimana kebijakan moneter global merespons inflasi yang cenderung ‘lengket’ akibat krisis energi,” tutup Sutopo.