Topikseru.com – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan hampir 29 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp 507 triliun untuk operasi militer terhadap Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Angka tersebut diungkap Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan Amerika Serikat, Jules W. Hurst III, dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan DPR AS pada Selasa (12/5/2026).
Menurut Hurst, estimasi biaya operasi terus mengalami peningkatan seiring meluasnya keterlibatan militer Washington di kawasan Timur Tengah.
- Kisah CEO Market Basket Arthur T Demoulas yang Dipecat karena Terlalu Baik: Karyawan Mogok Kerja, Pelanggan Boikot Toko
- Kapal Tanker China Diserang di Selat Hormuz, Jalur Minyak Global Kembali Memanas
- Harga Minyak Mentah di Perdagangan Kamis (7/5/2026): Brent Naik 88 Sen dan West Texas Intermediate Naik 1,2%
“Pada saat kesaksian sebelumnya, jumlahnya 25 miliar dolar AS. Namun tim gabungan staf dan pengawas anggaran terus memperbarui estimasi itu, dan sekarang kami perkirakan mendekati 29 miliar dolar AS,” ujar Hurst.
Dia menjelaskan lonjakan biaya tersebut pemicunya adalah kebutuhan perbaikan dan penggantian alat utama sistem persenjataan, termasuk biaya operasional untuk mempertahankan pasukan di lapangan.
Konflik Amerika Serikat vs Iran Picu Tekanan Global
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran sendiri mulai memanas sejak 28 Februari 2026, ketika Washington bersama Israel meluncurkan serangan udara ke sejumlah target di wilayah Iran.
Serangan tersebut berdasarkan laporan menyebabkan kerusakan besar dan menimbulkan korban sipil, sekaligus memicu respons keras dari Teheran.
Iran kemudian melakukan serangan balasan yang meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk.
Situasi itu bahkan sempat mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dan gas alam cair dunia.
Ketidakstabilan di kawasan tersebut membuat harga energi global melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir dan memperbesar tekanan terhadap ekonomi Internasional yang masih dalam bayang-bayang ketidakpastian geopolitik.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sejauh ini mempertahankan operasi militer dengan alasan menjaga stabilitas regional serta menekan kemampuan militer Iran.
Washington juga menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kapasitas ekonomi dan pertahanan Teheran agar konflik tidak meluas ke negara-negara lain di Timur Tengah.
Namun di dalam negeri, peningkatan anggaran perang mulai memunculkan tekanan politik terhadap pemerintah AS.
Kongres AS Minta Transparansi Anggaran
Sejumlah anggota Kongres meminta transparansi lebih besar terkait penggunaan dana pertahanan. Hal ini lantaran biaya operasi terus meningkat tanpa kepastian kapan konflik akan berakhir.
Hurst mengakui beban fiskal pemerintah menjadi semakin berat seiring berlanjutnya operasi militer.
Pengeluaran besar di sektor pertahanan ini dapat berdampak pada prioritas anggaran lain di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan tingginya tekanan inflasi energi.
Konflik AS-Iran kini tidak hanya menjadi isu keamanan kawasan, tetapi juga berkembang menjadi persoalan ekonomi global.
Situasi tersebut memengaruhi harga energi, stabilitas perdagangan internasional, dan kebijakan fiskal negara-negara besar.












