Topikseru.com, Tapanuli Selatan – Pasca viral seorang Ibu Hamil bernama Mastuti Daulay warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terpaksa ditandu warga ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Sipirok menggunakan bambu, pada 9 Mei 2026, ini evaluasi Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan.
Pertama memenuhi keterjangkauan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sesuai dengan standar. Kedua, mencegah dan mengendalikan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian. Ketiga, pemerataan pembangunan fasilitas kesehatan di setiap daerah.
Dengan data didapatkan informasi bahwa sejak hamil, Ibu Mastuti Daulay tidak di ANC (Ante Natal Care) sesuai dengan standar dan sudah dilakukan edukasi oleh bidan desa.
Bidan desa sudah pernah menganjurkan kepada Mastuti Daulay untuk dirujuk ke puskesmas dalam persalinan karena sudah ditemukan beberapa faktor resiko.
Dengan akses yang sangat jauh maka kedaruratan persalinan tidak dapat dilaksanakan dengan cepat.
Diketahui saat ini bidan desa yang selama ini bertugas di Desa Dalihan Natolu tidak lagi penuh waktu bertugas di desa tersebut dikarenakan sudah menjadi PPPK yang secara kedinasan setiap hari bertugas di puskesmas.
Tidak maksimalnya edukasi kepada individu keluarga dan masyarakat tentang program Kesehatan serta kurangnya keterlibatan aparatur pemerintah desa dan juga tokoh masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat untuk akses layanan kesehatan.
Akses jalan dan transportasi dari desa ke fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas.
Dinas Kesehatan Tapsel berharap adanya pengaturan tenaga kesehatan (Bidan Desa) untuk tetap berada di desa dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan sebelum mendapatkan rujukan ke puskesmas.
Dengan akses jalan dan transportasi yang terbatas ke pelayanan kesehatan lanjutan maka dibutuhkan pengaktifan rumah singgah untuk dapat digunakan oleh masyarakat pada waktu mendapatkan persalinan yang telah dijadwalkan.
Perlu dipastikan puskesmas tetap memberikan pelayanan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir sesuai dengan standar.
Tenaga kesehatan yang terlatih, alat kesehatan yang tersedia, dan obat-obatan yang tersedia, serta komitmen penerapan SOP akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan.
Mengatifkan kembali Program Desa Siaga. Melaksanakan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).
Sebelumnya, Topikseru.com memberitakan, pada tanggal 9 Mei 2026 pukul 08.00 WIB, Ibu Mastuti Daulay (35 tahun), warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, berangkat menuju RSUD Sipirok didampingi keluarga dan Kepala Desa serta berkoordinasi dengan Bidan Puskesmas Hanopan.
Karena keterbatasan akses transportasi, pasien dibawa menggunakan tandu oleh masyarakat dengan berjalan kaki melalui jalan setapak menuju Dusun Hasahatan, Desa Dolok Sordang, Kecamatan Sipirok.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam, pada pukul 14.00 WIB pasien tiba di Dusun Hasahatan dan selanjutnya diantar menggunakan kendaraan roda empat menuju RSUD Sipirok didampingi Bidan Puskesmas Hanopan.
Pada pukul 16.00 WIB pasien tiba di RSUD Sipirok dan segera mendapatkan penanganan medis dari dokter dan bidan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan USG, detak jantung janin sudah tidak ditemukan dan janin dinyatakan telah meninggal di dalam kandungan. Berdasarkan keterangan pasien, janin sudah tidak bergerak kurang lebih sejak satu hari sebelumnya.
Selain itu, pasien telah merasakan kontraksi sejak sekitar 10 hari sebelumnya dan mengalami pecah ketuban sejak 3 hari sebelumnya. Namun proses persalinan masih diupayakan secara mandiri di rumah.
Kehamilan tersebut merupakan kehamilan ketiga dengan riwayat abortus sebanyak 2 kali dan partus sebanyak satu kali.
Pada pukul 16.30 WIB janin lahir dalam keadaan meninggal dan pada pukul 17.00 WIB plasenta lahir lengkap. Selanjutnya pada pukul 17.30 WIB penanganan pasien selesai dilaksanakan dan pasien telah mendapatkan perawatan dari tim medis RSUD Sipirok.












