Topikseru.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara menyampaikan hasil pengamatan hilal menunjukkan posisi bulan sabit muda di Kota Medan telah memenuhi syarat penetapan awal Zulhijjah 1447 Hijriah.
Tim Hisab Rukyat mencatat tinggi hilal mencapai 6,52 derajat dengan elongasi 10,47 derajat. Angka tersebut dinilai telah memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan negara-negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag Sumut Syafrizal Bancin mengatakan hilal terpantau dengan baik sehingga peluang penetapan awal Zulhijjah sangat kuat.
- Kompol DK Akhirnya Jalani Patsus Usai Viral Video Diduga Asusila dan Gunakan "Pod Getar"
- Empat Guru di Deli Serdang Mengaku Jadi Korban Yayasan dan Bantah Terlibat Korupsi Dana BOS, Minta Keadilan ke Presiden Prabowo
- DPRD Sumut dan PERMEDSU Duduk Satu Meja: Ketika "Suara Netizen" Mulai Diakui dalam Ruang Demokrasi
“Ketinggian awal sudah memenuhi syarat, dan hilal sudah teramati dengan baik. Berdasarkan hukum syar’i dan perkembangan teknologi modern, besar kemungkinan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada Senin (18/5/2026),” ujar Syafrizal di Medan, Minggu (17/5/2025).
Menteri Agama Resmi Tetapkan 1 Zulhijjah
Meski hasil rukyat di daerah telah memenuhi syarat, keputusan resmi tetap berada di tangan pemerintah pusat melalui Sidang Isbat Kementerian Agama RI.
Menteri Agama Nasaruddin Umar kemudian menetapkan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah berdasarkan penetapan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
“Berdasarkan hasil hisab dan laporan hilal, disepakati 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada hari Senin (18/5), dengan demikian Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Rabu (27/5),” kata Nasaruddin Umar saat menyampaikan hasil sidang isbat di Jakarta.
Pengamatan Hilal Libatkan Banyak Pihak
Kegiatan rukyatul hilal di Sumatera Utara melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, BMKG, Majelis Ulama Indonesia hingga organisasi masyarakat Islam.
Syafrizal mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang turut mendukung proses pengamatan hilal hingga berjalan lancar.
“Terima kasih dan apresiasi atas kolaborasi ini. Setelah ini, kita akan sampaikan kepada tim di pusat menjadi referensi penetapannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Sumut Abu Qosim menilai proses hisab dan rukyat menjadi bentuk sinergi antara ilmu pengetahuan dan syariat Islam.
Menurut dia, penetapan awal bulan Hijriah tidak hanya berkaitan dengan aspek ibadah, tetapi juga menunjukkan tata kelola pemerintahan yang berbasis kolaborasi keilmuan.
Hisab dan Rukyat Jadi Penentu Awal Bulan Hijriah
Metode hisab dan rukyat masih menjadi acuan utama pemerintah dalam menentukan awal bulan Hijriah dan Zulhijjah.
Fenomena hilal yang memenuhi syarat di wilayah Indonesia memperkuat prediksi keseragaman pelaksanaan Idul Adha tahun ini.












