Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan Kamis (21/5/2026) rupiah spot ditutup pada level Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Nilai tukar rupiah melemah 0,07% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.654 per dolar AS.
Di Asia, nilai tukar rupiah melemah Bersama beberapa mata uang lainnya. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,46%.
Disusul baht Thailand yang melemah 0,23%, dolar Singapura melemah 0,09%, rupiah melemah 0,07%.
Di mana yen Jepang melemah 0,04%, dan yuan China melemah 0,02%. Dolar Hong Kong stagnan.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Rupee India menguat 0,43%, peso Filipina menguat 0,21%.
Dolar Taiwan menguat 0,17% dan ringgit Malaysia menguat 0,04% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,27, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,09.
Nilai Tukar Rupiah Sempat Menguat Tapi Berakhir di Zona Merah di Level Rp 17.654 per Dolar AS Siang Ini
Pada perdagangan Kamis (21/5) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di zona merah.
Nilai tukar rupiah setelah sempat menguat pada perdagangan sebelumnya. Kemarin, mata uang Garuda di pasar spot ditutup di level Rp 17.654 per dolar AS atau menguat 0,29% secara harian.
Pada perdagangan Kamis (21/5), rupiah dibuka menguat tipis menjadi Rp 17.652 per dolar AS.
Namun, per pukul 12.34 WIB, rupiah melemah 0,05% menjadi Rp 17.670 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
“Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan perang dengan Iran akan berakhir dengan sangat cepat, meskipun investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, pasar global juga mencermati ancaman gangguan pasokan minyak dunia akibat penutupan efektif Selat Hormuz.
Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut dapat memperbesar peluang bank sentral AS atau The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Prospek kenaikan suku bunga AS itu turut mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen positif yang sempat menopang penguatan rupiah berasal dari pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,8% hingga 6,5%.
Selain itu, Bank Indonesia juga memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.700 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah dibuka Naik Tipis 0,01% di Level Rp 17.652 per Dolar AS Pagi Ini
Pada awal perdagangan hari ini. Kamis (21/5/2026) nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak tipis di pasar spot.
Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.652 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat nilai tukar rupiah menguat tipis 0,01% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.654 per dolar AS.
Alhasil, pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah menanjak 0,19%.
Disusul, dolar Taiwan yang terkerek 0,15%. Selanjutnya, yuan China terangkat 0,05% serta yen Jepang dan dolar Hong Kong sama-sama naik 0,03%.
Kemudian, ringgit Malaysia terlihat menguat tipis 0,02% terhadap the greenback.
Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,41%.
Berikutnya, baht Thailand turun 0,09% dan dolar Singapura yang melemah tipis 0,05% di pagi ini.
Analis Pasar: menilai kebijakan pengetatan agresif BI Dorong Nilai Tukar Rupiah
Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%, melampaui ekspektasi pasar.
Langkah ini sekaligus memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher-for-longer guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kredibilitas kebijakan moneter nasional.
Keputusan agresif tersebut diambil di tengah tekanan berat terhadap rupiah. Secara month to date (MTD), rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 2,2% mendekati level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan domestik, mulai dari eskalasi tensi geopolitik antara AS dan Iran.
Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan, hingga ketidakpastian global yang masih tinggi.
Selain itu, permintaan valuta asing musiman untuk kebutuhan repatriasi dividen serta periode Haji dan Idul Adha turut menambah tekanan terhadap mata uang domestik.
Secara year to date (YTD), nilai tukar rupiah bahkan telah melemah sekitar 6,2%, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia.
Di sisi lain, intervensi BI di pasar valas juga telah mengurangi cadangan devisa sekitar US$ 10,3 miliar di tengah semakin terbatasnya buffer eksternal Indonesia.
Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas menilai kebijakan pengetatan agresif BI terutama bertujuan memulihkan stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Menurutnya, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mengalami arus keluar modal atau outflow sekitar Rp 11,1 triliun secara YTD.
Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru mampu menarik aliran dana masuk atau inflow sebesar Rp 76,2 triliun seiring kenaikan yield yang cukup tajam.
Kenaikan suku bunga acuan juga dipandang penting untuk meredam potensi peningkatan inflasi akibat lonjakan harga komoditas global.
Harga minyak dunia tercatat naik sekitar 78,4% secara year on year (YoY) menjadi US$ 109,7 per barel.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pass-through inflation terhadap harga domestik sekaligus menambah tekanan terhadap stabilitas fiskal pemerintah.
Di tengah kondisi tersebut, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakannya guna menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Langkah tersebut dilakukan melalui penjagaan likuiditas yang ample, peningkatan insentif likuiditas makroprudensial, perluasan intermediasi perbankan, hingga penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.
“Secara keseluruhan, kami memandang keputusan BI sebagai respons yang tepat dan timely di tengah tekanan eksternal yang persisten dan volatilitas rupiah yang meningkat,”
“Sementara kami tetap memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,25% hingga akhir 2026 setelah langkah frontloaded hike yang agresif tersebut,” ujar Jessica.












