Ekonomi dan Bisnis

IHSG Menguat Tipis Bertambah 18,50 Poin Duduk di Level 6.113,44 Siang Ini

×

IHSG Menguat Tipis Bertambah 18,50 Poin Duduk di Level 6.113,44 Siang Ini

Sebarkan artikel ini
IHSG Menguat
Berdasarkan data yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG menguat tipis 0,30% atau bertambah 18,50 poin ke level 6.113,44. Kenaikan IHSG ditopang kenaikan mayoritas indeks sektoral. Sektor yang naik paling tinggi adalah barang baku 3,78%, energi, 2,31%, barang konsumer non primer 1,05%.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan sesi I, Jumat (22/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan sesi pertama hari ini setelah dibuka di zona merah pagi tadi.

Berdasarkan data yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG menguat tipis 0,30% atau bertambah 18,50 poin ke level 6.113,44.

Kenaikan IHSG ditopang kenaikan mayoritas indeks sektoral. Sektor yang naik paling tinggi adalah barang baku 3,78%, energi, 2,31%, barang konsumer non primer 1,05%.

Selain itu, transportasi 0,46%, infrastruktur 0,38% dan perindustrian 0,01%. Sementara lima sektor lainnya melemah yaitu properti dan real estate 0,71%, teknologi 0,64%, keuangan 0,47%,barang konsumer primer 0,20% dan Kesehatan 0,11%.

Total volume perdagangan saham di BEI siang ini mencapai 19,94 miliar dengan nilai transaksi Rp 10,17 triliun. Ada 332 saham yang menguat, 350 saham yang melemah dan 135 saham yang stagnan.

Top gainers di LQ45 adalah:
1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 16,97% ke Rp 2.550 per saham
2. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) 7,04% ke Rp 2.280 per saham
3. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 5,14% ke Rp 4.910 per saham

Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 8,41% ke Rp 490 per saham
2. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 5,26% ke Rp 880 per saham
3. PT Astra International Tbk (ASII) 4,46% ke Rp 5.350 per saham.

IHSG Ambruk Lagi dan Meninggalkan Level Psikologis 6.000 di Awal Perdagangan Jumat (22/5/2026)

Pada perdagangan pagi ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lagi dan meninggalkan level psikologis 6.000.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG anjlok 1,87% ke level 5.980,85 pada perdagangan Jumat (22/5/2026) pukul 09.02 WIB.

Seluruh indeks sektoral kompak melemah jadi pemberat bagi IHSG. Sektor yang turun paling dalam antara lain energi, transportasi, infrastruktur, barang baku, barang konsumer primer, barang konsumer primer, teknologi dan perindustrian.

Total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 1,99 miliar dengan nilai transaksi Rp 940 miliar.

Ada sebanyak 473 saham yang melemah jadi pemberat IHSG, 74 saham yang menguat dan 129 saham yang stagnan.

Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 10,65% ke Rp 478 per saham
2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) 7,20% ke Rp 1.225 per saham
3. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) 5,97% ke Rp 630 per saham

Top gainers di LQ45 adalah:
1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 1,83% ke Rp 2.220 per saham 2. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) 0,96% ke Rp 7.850 per saham 3. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 0,65% ke Rp 1.540 per saham

Analis Pasar: IHSG Berpeluang Bergerak Fluktuatif

Pada perdagangan Jumat (22/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuaktif dan cenderung volatil.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.

Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support 6.000 dan area resistance 6.215 pada hari ini.

Namun di sisi lain, setelah koreksi yang sangat dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang IHSG untuk rebound teknikal jangka pendek juga mulai terbuka. Ini dengan catatan apabila muncul bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah mengalami jenuh jual (oversold).

“Pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market,” ujarnta.

Dalam jangka pendek, lanjut Hendra, investor sebaiknya mulai fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.

Saham seperti TLKM menarik dicermati dengan strategi buy on weakness di area Rp 2.860 per saham dan target jangka pendek menuju Rp 3.200 per saham seiring valuasi yang mulai murah dan potensi rebound sektor telekomunikasi.

Selain itu, saham CPIN masih layak untuk trading buy dengan target Rp 4.500 per saham yang didukung sentimen pembagian dividen dan prospek konsumsi domestik yang tetap solid.

Sementara itu, saham INDF menarik untuk speculative buy sebagai saham defensif consumer dengan target penguatan menuju area Rp 7.000 per saham.

Dari sektor komoditas, saham TINS juga mulai menarik untuk speculative buy dengan target Rp 3.700 per saham memanfaatkan potensi rebound harga timah global, meski volatilitas sektor komoditas masih cukup tinggi sehingga investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko yang ketat.

Sebelumnya, IHSG ditutup anjlok 3,54% ke level 6.094,94 dan sekaligus menembus area psikologis 6.100 pada Kamis (21/5).

Pelemahan ini menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.

“Tekanan utama datang dari kombinasi sentimen domestik dan global,” tukas Hendra.

Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.

Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun.

Dari eksternal, pasar juga masih dibayangi sikap hawkish The Fed setelah risalah FOMC menunjukkan kekhawatiran inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Akibatnya, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di emerging market termasuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *