Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Kembali Menguat Hampir 1%: Brent naik 83 sen dan West Texas Intermediate Menguat 68 Sen

×

Harga Minyak Mentah Kembali Menguat Hampir 1%: Brent naik 83 sen dan West Texas Intermediate Menguat 68 Sen

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
harga minyak mentah kembali menguat hampir 1% menjauhi posisi terendah dalam tujuh pekan terakhir. Setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran dan data persediaan minyak mentah AS menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Rabu (10/6/2026) Harga Minyak Mentah kembali menguat hampir 1% menjauhi posisi terendah dalam tujuh pekan terakhir.

Setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran dan data persediaan minyak mentah AS menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan.

Melansir Reuters, kontrak Brent naik 83 sen atau 0,9% menjadi US$ 92,29 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 68 sen atau 0,8% ke level US$ 88,97 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.

Aksi tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan merespons insiden jatuhnya helikopter serang Apache milik AS yang ditembak jatuh di kawasan Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru ini memunculkan kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global dan mengancam keberlangsungan gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran.

Sebelumnya, harga minyak sempat merosot ke level terendah dalam tujuh pekan pada Selasa (9/6).

Penurunan terjadi setelah Iran dan Israel menghentikan serangan langsung satu sama lain menyusul seruan Trump agar kedua pihak menahan diri.

Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih membayangi pasar. Iran menyatakan akan kembali melakukan serangan apabila Israel terus menggempur kelompok Hizbullah di Lebanon.

Di sisi lain, Iran masih membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sementara itu, Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat.

Namun, upaya mencapai kesepakatan damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan masih menemui jalan terjal.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak AS.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS turun selama delapan pekan berturut-turut hingga pekan yang berakhir 5 Juni 2026.

Sumber pasar yang mengutip data API menyebutkan persediaan minyak mentah turun sebesar 9,12 juta barel. Sementara itu, stok bensin juga berkurang sekitar 1,19 juta barel.

Penurunan persediaan tersebut berpotensi membatasi kemampuan ekspor AS yang selama ini menjadi salah satu pemasok tambahan minyak dan produk energi ke pasar Asia dan Eropa selama konflik berlangsung.

Kondisi itu dinilai dapat memperketat pasokan global dan menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *