Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Kembali Tertekan Lengser di Level Rp17.851 per Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Kembali Tertekan Lengser di Level Rp17.851 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

Nilai Tukar Rupiah
nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar spot. Di mana nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.851 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan hari ini. Kamis (18/6/2026)
Intinya Sih
  • Kamis (18/6/2026) nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar spot.
  • Di mana nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.
  • Hal Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,5% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI)

Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan hari ini. Kamis (18/6/2026) nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar spot. Di mana nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.851 per dolar Amerika Serikat (AS).

Hal Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,5% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.762 per dolar AS.

Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,66%.

Selanjutnya ada ringgit Malaysia turun 0,56% dan peso Filipina terkoreksi 0,28%. Disusul, yuan China yang tertekan 0,07%.

Kemudian ada dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,01% di perdagangan pagi ini.
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah menanjak 0,06%.

Lalu ada dolar Singapura yang terkerek 0,05%. Berikutnya, baht Thailand terangkat 0,05% dan yen Jepang menguat tipis 0,006% terhadap the greenback.

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.762 per dolar AS, melemah 0,21% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 17.725 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga melemah 0,19% menjadi Rp 17.753 per dolar AS dari posisi sehari sebelumnya Rp 17.719 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari eksternal, pelaku pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah muncul optimisme mengenai perpanjangan gencatan senjata sementara guna membuka ruang bagi negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi.

Pasar menilai proses normalisasi produksi dan distribusi energi di kawasan tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat sehingga risiko terhadap pasokan energi global tetap menjadi perhatian.

Selain itu, fokus investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve.

Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan.

“Pasar masih menunggu petunjuk terkait peluang penurunan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Menurut Ibrahim, RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa waktu terakhir mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga menjadi 5,50% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Di sisi lain, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi risiko gangguan pasokan energi global karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dan tidak lagi bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah tetap mempertimbangkan faktor harga dalam menentukan sumber impor energi guna menjaga efisiensi dan mengurangi beban fiskal.

Untuk perdagangan Kamis (18/6), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 17.760-Rp 17.800 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *