- Pada akhir perdagangan Kamis (18/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 48,40 poin atau 0,78% ke 6.
- Sebanyak 258 saham naik, 419 saham turun dan 137 saham stagnan.
- Lima indeks sektoral selamat ke zona hijau.
Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan Kamis (18/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 48,40 poin atau 0,78% ke 6.172,34 di pasar spot.
Sebanyak 258 saham naik, 419 saham turun dan 137 saham stagnan. Lima indeks sektoral selamat ke zona hijau.
Sedangkan enam indeks sektoral lainnya masuk zona merah, mengikuti pelemahan IHSG.
Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor barang baku yang naik 2,49%, sektor barang konsumen siklikal yang naik 0,47% dan sektor transportasi yang naik 0,29%.
Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor infrastruktur yang turun 1,96%, sektor keuangan turun 1,32% dan sektor Kesehatan yang turun 1,07%.
Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 25,16 miliar saham dengan total nilai Rp 17,54 triliun.
Top gainers LQ45 hari ini adalah:
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) (7,53%)
2. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) (6,70%)
3. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (5,64%)
Top losers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Indosat Tbk (ISAT) (-6,74%)
2. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) (-6,08%)
3. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) (-5,66%)
IHSG Terkoreksi Berlawanan Arah dengan Bursa Saham Asia yang Bergerak Menguat
Pada perdagangan sesi pertama Kamis (18/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi berlawanan arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak menguat.
Mengutip data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG turun 1,06% atau 65,816 poin ke level 6.154,924. Sebanyak 417 saham melemah, 225 saham menguat, dan 158 saham bergerak stagnan.
Volume perdagangan mencapai 14,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 10 triliun.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari tujuh indeks sektoral yang bergerak di zona merah.
Tiga sektor dengan penurunan terdalam yakni IDX-Infra yang melemah 2,03%, IDX-Finance turun 1,46%, dan IDX-Health terkoreksi 1,41%.
Di jajaran saham LQ45, pelemahan terdalam dialami oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang merosot 7,77% ke Rp 2.730.
Disusul PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,72% ke Rp 1.515 dan PT Indosat Tbk (ISAT) yang terkoreksi 3,77% ke Rp 1.785.
Sementara itu, saham-saham yang menjadi penopang indeks di antaranya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang melonjak 5,86% ke Rp 2.890.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 3,91% ke Rp 372, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 2,20% ke Rp 5.100.
Di tengah pelemahan IHSG, mayoritas pasar saham negara berkembang (emerging markets/EM) Asia justru mencatat penguatan, didorong reli saham teknologi dan meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi kawasan.
Pasar saham Korea Selatan menjadi sorotan setelah indeks KOSPI melonjak lebih dari 1,5% dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis 9.000.
Penguatan tersebut turut mendorong indeks saham Taiwan naik hampir 1%. Kenaikan di kedua pasar itu mengangkat indeks MSCI Emerging Markets Asia ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Di Singapura, indeks FTSE Straits Times juga mencetak rekor tertinggi baru. Indeks tersebut melanjutkan kenaikan setelah menguat 1,2% pada perdagangan sebelumnya dan mencatat penguatan selama enam sesi berturut-turut.
Sementara itu, indeks saham Filipina naik 0,8%, sedangkan pasar saham Malaysia dan Thailand bergerak relatif terbatas.
Berbeda dengan pasar regional, aset keuangan Indonesia masih berada di bawah tekanan.
Selain IHSG yang sempat melemah hingga 2,4%, nilai tukar rupiah juga terdepresiasi ke level Rp 17.865 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Analis Saxo Markets Charu Chanana menilai, BI memiliki kecenderungan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, bahkan berpotensi mengarah pada pengetatan lebih lanjut jika pelemahan rupiah berlanjut.
Selain itu, investor juga mencermati hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dinilai berpotensi memengaruhi arus likuiditas di pasar keuangan Indonesia.
Sepanjang tahun ini, rupiah beberapa kali mencatat level terlemah terhadap dolar AS.
Tekanan tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.
Serta volatilitas harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter Taiwan. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, bank sentral Taiwan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.












