Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Selasa (23/6/2026) pukul 13.00 WIB, harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 4.119,13 per ons troi.
Sejalan, harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus 2026 turun 1,5% menjadi US$ 4.137,1 per ons troi.
“Emas telah mendapat sedikit keringanan dari penurunan harga minyak minggu ini, tetapi tidak mendapat dukungan serupa dari dolar AS, yang terus menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga Fed,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Harga emas turun lebih dari 1% pada hari ini, tertekan oleh penguatan dolar AS karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini, sementara investor menilai pembicaraan perdamaian AS-Iran.
Dolar AS tetap stabil di dekat level tertinggi satu tahun yang dicapai akhir pekan lalu, membuat emas kurang terjangkau bagi pembeli yang memegang mata uang lain.
Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap Iran selama 60 hari mulai Senin setelah pembicaraan pertama di bawah kesepakatan perdamaian yang baru lahir, sementara para pejabat melaporkan jeda yang berkelanjutan dalam pertempuran di Lebanon di bawah perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan di seluruh wilayah tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Swiss telah meletakkan dasar yang baik untuk kesepakatan perdamaian akhir, meskipun Iran membantah telah memulai diskusi tentang program nuklirnya.
Presiden Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, mengatakan bahwa dengan pasar tenaga kerja yang stabil, ia fokus pada mencari tahu apakah inflasi yang terlalu tinggi akan tetap seperti itu atau menurun, seiring dengan memudarnya efek tarif tinggi, dan jika konflik di Timur Tengah terselesaikan.
Para pedagang sekarang melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 88% pada bulan Desember, naik dari 61% sebelum pertemuan Fed pekan lalu, menurut CME FedWatch Tool.
Investor menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi AS, indikator inflasi pilihan Fed, yang akan dirilis akhir pekan ini, untuk petunjuk kebijakan moneter lebih lanjut.
Harga perak spot turun 4% menjadi US$ 62,59 per ons, platinum turun 2% menjadi US$ 1.644,75, dan paladium turun 2,3% menjadi US$ 1.236,50.
Analis Pasar: Harga Emas Spot akan Bergerak di Kisaran US$ 3.900 hingga US$ 4.100 hingga Kuartal III 2026
Di tengah tekanan dari kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS), harga emas di pasar spot maupun emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) terkoreksi cukup dalam setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada tahun ini.
Melansir Trading Economic pada Senin (22/6/2026) pukul 18.20 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.138,82 per troi ons atau melemah 9,44% dalam sebulan terakhir dan turun 4,21% YtD.
Padahal, emas spot sempat mencapai all-time-high pada Januari 2026, yakni US$ 5.608,35 per ons troi.
Sementara itu, harga emas batangan Antam dihargai Rp 2.673.000 per gram, turun 3,60% dibandingkan harga satu bulan lalu yang berada di Rp 2.773.000 per gram.
Sama halnya dengan emas spot, harga Antam juga mencapai ATH pada Januari lalu yakni di level Rp 3.168.000 per gram.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan, menjelaskan koreksi harga emas terjadi akibat kombinasi faktor moneter dan geopolitik global.
Dari sisi moneter, sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish membuat dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali menarik bagi investor.
“Selain itu, pasar sempat merespons positif adanya upaya perdamaian AS-Iran yang mengurangi permintaan safe haven terhadap emas,” ujar Brahmantya.
Namun, menurut Brahmantya, sentimen tersebut tidak berlangsung lama. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran serta kembali meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz membuat minat investor terhadap dolar AS kembali meningkat.
Ia menjelaskan, dalam situasi ketidakpastian pasokan energi global, dolar AS masih dipandang sebagai petrodollar karena mayoritas transaksi minyak dunia masih menggunakan mata uang tersebut.
“Selama risiko pasokan energi dan geopolitik masih tinggi, sebagian investor cenderung memilih memegang dolar terlebih dahulu sehingga kenaikan emas menjadi lebih terbatas,” imbuhnya.
Di tengah koreksi harga emas, Brahmantya menilai emas fisik seperti Antam masih menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor jangka panjang.
Menurutnya, emas fisik memiliki fungsi utama sebagai penyimpan nilai (store of value) dan instrumen lindung nilai (hedging) yang relatif stabil.
Sementara itu, emas digital juga memiliki daya tarik tersendiri karena memungkinkan investor melakukan akumulasi dengan nominal yang lebih kecil dan lebih fleksibel.
Adapun bagi investor aktif dan trader, instrumen emas berjangka atau futures (XAUUSD) dinilai menawarkan peluang yang lebih besar karena volatilitas harga yang relatif tinggi.
Lebih lanjut, ia menilai koreksi harga emas saat ini justru membuka peluang bagi investor yang belum memiliki emas untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.
Menurutnya, kuartal III 2026 berpotensi menjadi periode yang menarik untuk membangun posisi karena pasar masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga global dan perkembangan geopolitik.
Sementara bagi investor yang sudah memiliki emas dalam portofolio, Brahmantya menyarankan untuk tetap mempertahankan kepemilikan atau hold sambil menambah porsi secara bertahap.
Strategi tersebut dinilai lebih menarik dibandingkan melakukan profit taking karena tren jangka panjang emas masih positif.
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen utama, seperti arah kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, inflasi AS, kondisi geopolitik di Timur Tengah, serta permintaan emas dari bank sentral dunia.
Ia menyoroti langkah China yang masih agresif meningkatkan cadangan emas sebagai salah satu faktor yang berpotensi menopang harga emas dalam jangka panjang.
Untuk proyeksi, Brahmantya memperkirakan harga emas spot akan bergerak di kisaran US$ 3.900 hingga US$ 4.100 per ons troi hingga kuartal III 2026.












