Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Semakin Tertekan Tersandar di Level Rp17.303 Per Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Semakin Tertekan Tersandar di Level Rp17.303 Per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah
nilai tukar rupiah semakin tertekan. Bahkan hingga hari ini nilai tukar rupiah sudah berada di level Rp 17.303 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,71% dibanding hari sebelumnya.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (23/4/2026) nilai tukar rupiah semakin tertekan. Bahkan hingga hari ini nilai tukar rupiah sudah berada di level Rp 17.303 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,71% dibanding hari sebelumnya.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Masih dalam Tekanan Belum akan Kembali ke Level Rp16.000 Per Dolar AS

Menanggapi hal tersebut, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi bahkan menyebut pelemahan nilai tukar rupiah ini bisa diproyeksikan berlanjut hingga menyentuh Rp 17.400 pada akhir April 2026, lebih cepat dari ekspektasi awal yang semula dipatok untuk tahun 2026.

Ia menilai, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang sama-sama kuat.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,33% Berada di Level Rp16.353 Per Dolar AS

Dari sisi global, memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama.

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kegagalan perundingan yang difasilitasi Pakistan.

Iran disebut tidak menghadiri pertemuan tersebut menyusul aksi AS yang menyita kapal tanker Iran di Selat Hormuz.

Ia menjelaskan, tuntutan AS terkait pembebasan tarif di Selat Hormuz serta penghentian pengayaan uranium dinilai sulit diterima Iran.

Sehingga memperkecil peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Saat ini, harga minyak jenis Brent telah mencapai sekitar US$ 103 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$ 98 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut memberi tekanan tambahan bagi negara importir seperti Indonesia.

Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Indonesia membutuhkan sekitar 2,1 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik belum mencukupi sehingga impor mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

“Artinya pemerintah harus menyiapkan anggaran yang jauh lebih besar untuk impor energi, apalagi ada kendala distribusi akibat ketegangan di Selat Hormuz,” jelas Ibrahim.

Selain itu, beban fiskal juga meningkat seiring kebijakan pemerintah yang masih menahan harga BBM subsidi di tengah kenaikan harga minyak global.

Di sisi lain, penyesuaian harga hanya dilakukan pada BBM non-subsidi.

Kondisi tersebut memperbesar kebutuhan subsidi energi, sehingga berisiko memperlebar defisit APBN.

Padahal dalam asumsi APBN 2026, harga minyak ditetapkan di kisaran US$ 70 per barel dengan batas atas US$ 92 per barel.

Tak hanya itu, faktor jatuh tempo utang pemerintah dalam jumlah besar juga turut membebani sentimen terhadap rupiah.

Dalam APBN 2026, nilai tukar rupiah diasumsikan berada di level Rp 16.500 per dolar AS.

Dengan posisi saat ini yang sudah jauh melemah, pemerintah dinilai membutuhkan dana tambahan untuk menutup berbagai tekanan, terutama dari sisi impor energi.