Ekonomi dan Bisnis

Dolar AS Tampil Perkasa Jelang Dipicu Pertemuan Trump-Xi dan Inflasi AS Memanas

×

Dolar AS Tampil Perkasa Jelang Dipicu Pertemuan Trump-Xi dan Inflasi AS Memanas

Sebarkan artikel ini
Dolar AS
indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama berada di level 98,46 atau naik sekitar 0,63% sepanjang pekan ini. Penguatan dolar terjadi saat perhatian pasar global tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (14/5/2026) Dolar Amerika Serikat (AS) menguat seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS

Dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

Selain faktor inflasi AS yang masih tinggi, aliran dana ke aset safe haven juga meningkat di tengah kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran terkait perang di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama berada di level 98,46 atau naik sekitar 0,63% sepanjang pekan ini.

Penguatan dolar terjadi saat perhatian pasar global tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Pertemuan tersebut dinilai penting untuk menjaga gencatan perang dagang AS-China sekaligus membahas isu geopolitik, termasuk perang Iran dan penjualan senjata AS ke Taiwan.

Di pasar Asia, yuan offshore China bertahan di level tertinggi lebih dari tiga tahun terakhir dan terakhir diperdagangkan di kisaran 6,7860 per dolar AS.

Analis Barclays menilai yuan domestik China kemungkinan masih akan stabil dalam jangka pendek sehingga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih kondusif dalam pembicaraan antara AS dan China.

Namun demikian, otoritas China diperkirakan tidak akan membiarkan penguatan yuan berlangsung terlalu cepat melalui intervensi maupun penyesuaian fixing harian.

Di pasar valuta global, euro relatif stabil di level US$ 1,1716 dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.

Sementara pound sterling berada di posisi US$ 1,3527 dan tertekan oleh ketidakpastian politik domestik Inggris.

Terhadap yen Jepang, dolar AS sedikit melemah 0,04% menjadi 157,83 yen. Pelaku pasar masih mewaspadai potensi intervensi otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya yang terus tertekan.

Sentimen penguatan dolar juga dipicu data inflasi AS yang kembali memanas. Data terbaru menunjukkan harga produsen AS (Producer Price Index/PPI) pada April mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir.

Sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan laju kenaikan harga tahunan tercepat dalam tiga tahun terakhir.

“Data inflasi minggu ini jelas tidak akan disambut baik oleh pejabat Federal Open Market Committee (FOMC), termasuk Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh,” ujar analis strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong.

Senat AS pada Rabu (13/5) resmi menyetujui Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell.

Menurut Kong, The Fed berpotensi memulai siklus pengetatan suku bunga baru mulai Desember 2026 dengan kemungkinan tiga kali kenaikan suku bunga dalam siklus tersebut.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 31,8%, naik tajam dibandingkan sekitar 16% sepekan lalu.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Yield obligasi tenor dua tahun berada di level 3,9750%, mendekati posisi tertinggi satu setengah bulan terakhir.

Sementara yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,4669% atau mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *