Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (28/5/2026) nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor pelemahan baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.846 per dolar AS, melemah 0,25% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi yang keenam secara beruntun. Senasib, mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.780 per dolar AS, melemah 0,26% dari posisi sebelumnya Rp 17.743 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah telah melemah selama tiga hari berturut-turut berdasarkan acuan tersebut.
Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global Di pasar global, dolar AS bergerak lebih tinggi pada perdagangan Kamis, setelah sempat menyentuh level terkuatnya sejak awal April.
Penguatan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Kekhawatiran pasar meningkat terkait prospek kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia.
Di sisi lain, fokus investor juga tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Ketegangan geopolitik turut meningkat setelah laporan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat oleh Garda Revolusi Iran, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah adanya kesepakatan kompromi dengan Tehran.
Sebelumnya, dolar AS sempat melonjak pada Maret ketika ketegangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar.
Pelaku pasar juga tengah mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, terutama setelah sejumlah pejabat bank sentral AS mengeluarkan pernyataan bernada hawkish.
Analis mencatat bahwa perubahan sikap tersebut mendorong ekspektasi pasar ke arah kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
“Dengan pernyataan anggota FOMC yang semakin hawkish dalam beberapa minggu terakhir, data ekonomi yang dirilis akan menjadi penentu apakah ekspektasi kenaikan suku bunga ini akan bertahan,” ujar strategi suku bunga Commerzbank, Michael Pfister dilansir Reuters.
Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya juga menyatakan bahwa bank sentral sebaiknya menghapus bias pelonggaran kebijakan, yang membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan.
Sementara itu, analis ING menilai narasi hawkish The Fed kemungkinan masih akan mendominasi dalam beberapa waktu ke depan, dan memperingatkan euro berpotensi kesulitan bertahan di kisaran 1,1650–1,1660 dolar AS.
Euro sendiri tercatat melemah 0,11% ke level 1,1613 dolar AS menjelang rilis data inflasi utama AS, yaitu core PCE deflator.
“Dolar kini mendapat dukungan makroekonomi yang lebih kuat dibandingkan awal Mei, ketika pasar terlalu optimistis terhadap de-eskalasi geopolitik,” kata strategi valas ING, Francesco Pesole, merujuk pada data inflasi AS yang masih tinggi.












