Topikseru.com, Medan – Guna menyalurkan Makan Bergizi Gratis (MBG), 235 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah aktif di Kota Medan, Sumatera Utara menghabiskan 183 ton beras dan 21 ton ayam setiap minggu.
“Angka kebutuhan pangan untuk program ini per minggunya sangat fantastis. Bahan beras saja kebutuhan perminggu itu mencapai 183 ton, daging ayam 21 ton. Cukup tinggi itu tempe dan tahu. Saya ingin berikan mereka akses untuk menyuplai SPPG. Kita ingin mendengar para pedagang kecil di pasar tersenyum dan berkata, ‘Setiap hari ada yang membeli,” kata Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat membuka acara High Level Meeting (HLM), Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengenai kemitraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Pelaku Usaha Potensial di Kota Medan, di Gedung PKK Kota Medan, Jumat (29/5/2026).
Rico waas memuji kehadiran 235 SPPG aktif penyalur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Medan akan membawa multiplier effect (efek berganda). Mulai dari pemenuhan gizi anak, pengentasan kemiskinan hingga peningkatan ekonomi pelaku UMKM lokal.
Rico Waas menilai, program MBG bukan sekadar tentang memberikan makanan sehat kepada anak sekolah. Program nasional ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang masif melalui ekosistem Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kita ingin anak-anak kita sehat dan mendapatkan gizi yang standar serta merata. Namun jangan lupa, pembangunan gizi ini ada dapurnya. Dapur ini belinya ke para pelaku yang ada disekitar dapur. Di sinilah ekosistem ekonomi lokal kita bangun,” kata Rico Waas.
Program ini bilang Rico Waas, membantu anak-anak untuk dapat mengakses makanan yang layak dan bergizi. Di kota Medan, target menyasar 700.000 anak di 21 kecamatan. Pemko Medan juga telah berkomitmen memastikan generasi masa depan Medan tumbuh cerdas dan sehat.
“Di Kota Medan ditargetkan berdiri 255 SPPG untuk melayani sekitar 700.000 anak. Alhamdulillah saat ini sudah aktif 235 SPPG,” ujar Rico Waas.
Selain itu, Rico Waas juga berharap setiap SPPG diproyeksikan menyerap 47 hingga 50 tenaga kerja lokal. Diprioritaskan bagi masyarakat rentan dalam kategori Desil 1 dan Desil 2 (masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah).
”Harapan kami, mohon ini menjadi perhatian bersama agar yang dipekerjakan adalah masyarakat di sekitar dapur SPPG. Dari yang tadinya tidak punya pekerjaan, sekarang punya penghasilan tetap,” tegas Rico Waaa dihadapan ratusan pengelola SPPG dan pelaku usaha yang hadir.
Rico Waas ingin agar dapur SPPG diwajibkan membeli bahan baku dari warung, peternak, petani urban farming dan pengrajin di sekitarnya. Ia mencontohkan, jika ada warga sekitar yang beternak lele atau nila, pasokannya bisa langsung diserap oleh SPPG.
Meski berpotensi meningkatkan perputaran uang di masyarakat, Wali Kota Medan mengingatkan jajarannya beserta Bank Indonesia (BI) dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tetap waspada terhadap risiko inflasi.
Lonjakan permintaan bahan pangan yang masif berpotensi memicu kenaikan harga jika tidak distrategikan dengan matang. Oleh karenanya, Rico Waas menginstruksikan pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat mulai dari hulu hingga hilir guna memastikan jalur jual-beli berjalan lancar tanpa merusak stabilitas harga pasar.
”Mau melihat masa depan Indonesia, lihat anak-anak kita sekarang. Berikan gizi, pendidikan, dan fasilitas terbaik, maka Indonesia masa depan akan maju luar biasa. Jika pengusaha kecil memperoleh income yang baik dan anak-anak sehat, maka ekonomi kita akan sangat stabil,” ujar Rico Waas.
Hadir dalam kegiatan, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Didit Widiana, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarkat Badan Gizi Nasional Tengku Syahdana, serta pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemko Medan.








