Nasional

BGN Larang Dapur MBG Masak Mi Tanpa Chef Andal Usai 147 Anak Alami Gangguan Pencernaan

×

BGN Larang Dapur MBG Masak Mi Tanpa Chef Andal Usai 147 Anak Alami Gangguan Pencernaan

Sebarkan artikel ini
BGN
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang

Topikseru.com, Jakarta – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak memasak menu mi tanpa pengawasan juru masak yang benar-benar berpengalaman.

Langkah tersebut diambil menyusul kasus gangguan pencernaan massal yang dialami 147 anak setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jakarta Timur.

Nanik menyampaikan pernyataan itu usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur MBG pada Minggu (10/5/2026), yang diduga menjadi sumber kejadian keracunan pangan tersebut.

“Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal,” kata Nanik melalui unggahan Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn, dikutip Selasa (12/5/2026).

Menu Bakmi Diduga Jadi Pemicu Gangguan Pencernaan

BGN mengungkapkan gangguan kesehatan dialami para siswa setelah mengonsumsi paket makanan yang terdiri dari:

  • Bakmie Djawa
  • Ayam suwir
  • Pangsit tahu kukus
  • Tauge rebus
  • Timun
  • Tomat
  • Jamur krispi
  • Semangka

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (8/5/2026) malam. Dari total 147 anak yang mengalami gangguan pencernaan, sebanyak 33 anak sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

“Minggu malam saya sidak ke dapur yang mengolah MBG dan menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan di Jakarta Timur. Sebanyak 33 di antaranya sempat dirawat, namun Senin kemarin sudah pulang semua,” ujar Nanik.

Menu Mi Disebut Paling Sering Picu Masalah

Menurut Nanik, menu berbahan dasar mi menjadi salah satu penyebab paling dominan dalam sejumlah kasus gangguan pencernaan selama program MBG berjalan.

Dia menyebut, dalam kurun waktu 1,5 tahun pelaksanaan program MBG di Jakarta, telah terjadi 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan dan tujuh kasus di antaranya berkaitan dengan menu mi.

BGN bahkan mengaku terkejut karena dapur MBG kembali menggunakan menu mi, padahal sebelumnya kasus serupa juga pernah terjadi akibat menu spaghetti.

“Agak kaget waktu dikabari menu mi lagi yang dipakai. Sebulan sebelumnya di Jakarta Timur juga menu spaghetti menjadi penyebab beberapa anak gangguan perut,” ungkapnya.

Mi Basah Dinilai Berisiko Tinggi

Nanik menjelaskan mi basah atau mi kuning segar memiliki kadar air tinggi sehingga mudah basi dan rentan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme penyebab gangguan pencernaan.

Karena itu, BGN meminta dapur MBG lebih selektif dalam menentukan menu makanan, terutama yang membutuhkan teknik pengolahan khusus dan standar higienitas tinggi.

Pihaknya juga menegaskan bahwa pengawasan terhadap keamanan pangan dalam program MBG akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Program MBG Jadi Sorotan

Kasus gangguan pencernaan massal ini kembali memunculkan sorotan terhadap kualitas pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Publik menilai aspek keamanan pangan dan kualitas pengolahan makanan harus menjadi perhatian utama, terutama karena program tersebut menyasar anak-anak sekolah.

BGN memastikan evaluasi terhadap dapur MBG yang bermasalah akan terus dilakukan, termasuk penguatan standar operasional dan pelatihan tenaga pengolah makanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *