Topikseru.com, Jakarta – Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan alasan di balik kenaikan harga Pertamax dan sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026.
Menurut Teddy, Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga mekanisme penetapan harganya mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami lonjakan signifikan.
“Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik,” kata Teddy saat dihubungi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kebijakan harga energi Nasional, terutama setelah adanya aksi demonstrasi mahasiswa yang turut menyoroti isu kenaikan Harga BBM.
Harga Pertamax Naik Setelah Berbulan-bulan Ditahan
Pemerintah menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi sebenarnya telah lama ditunda meskipun harga minyak dunia terus mengalami kenaikan sejak Maret 2026.
Lonjakan harga energi global dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik dan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga minyak mentah internasional.
Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi selama beberapa bulan sebelum akhirnya melakukan penyesuaian.
Per 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
“Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan. Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain,” ujar Teddy.
Pertalite dan Solar Tetap, Tidak Ada Kenaikan Harga
Di tengah kenaikan harga Pertamax, pemerintah memastikan BBM subsidi tidak mengalami perubahan harga.
Hingga saat ini, harga Pertalite masih dipertahankan pada level Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi tetap dijual Rp 6.800 per liter.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan kenaikan harga energi internasional.
Dengan demikian, kenaikan harga yang berlaku saat ini hanya menyasar produk BBM nonsubsidi yang memang mengikuti mekanisme pasar.
Harga Pertamax Masih Lebih Murah Dibanding Negara Tetangga
Sekretariat Kabinet juga mempublikasikan perbandingan harga BBM dengan spesifikasi setara RON 92 hingga RON 95 di sejumlah negara Asia Tenggara.
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, harga BBM di Indonesia masih tergolong lebih rendah dibanding beberapa negara di kawasan.
Berikut perbandingan harga BBM RON 92/95 di Asia Tenggara:
| Negara | Harga per Liter |
|---|---|
| Indonesia (Pertamax) | Rp16.250 |
| Filipina | Rp22.158 |
| Laos | Rp31.945 |
| Thailand | Rp28.910 |
| Myanmar | Rp25.085 |
| Singapura | Rp42.971 |
Data tersebut digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa meskipun terjadi penyesuaian harga, Pertamax masih dijual dengan harga yang relatif kompetitif dibanding negara-negara tetangga.
Kenaikan Harga BBM Jadi Sorotan Demonstrasi Mahasiswa
Penjelasan pemerintah mengenai harga Pertamax disampaikan pada Jumat malam melalui kanal resmi Sekretariat Kabinet.
Momentum penyampaian informasi tersebut bertepatan dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Salah satu kelompok massa yang terlibat dalam aksi tersebut adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).
Dalam demonstrasi itu, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah, termasuk desakan agar harga BBM diturunkan.
Namun pemerintah menegaskan bahwa yang mengalami kenaikan hanya BBM nonsubsidi, sedangkan BBM subsidi yang digunakan mayoritas masyarakat tetap dipertahankan pada harga sebelumnya.
Pemerintah Berupaya Menjaga Stabilitas Energi Nasional
Kebijakan mempertahankan harga Pertalite dan Solar di tengah kenaikan harga minyak global menunjukkan upaya pemerintah menjaga stabilitas energi nasional sekaligus melindungi kelompok masyarakat yang bergantung pada BBM bersubsidi.
Di sisi lain, penyesuaian harga Pertamax dinilai sebagai konsekuensi dari mekanisme pasar yang berlaku pada produk nonsubsidi.
Pemerintah berharap masyarakat dapat memahami perbedaan karakteristik antara BBM subsidi dan nonsubsidi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman terkait kebijakan harga energi yang saat ini diterapkan.












