Ringkasan Berita
- Saat ini, Presiden telah mengirim surat resmi (Supres) ke DPR RI mengenai pergantian Kapolri Jenderal Polisi Listyo S…
- Kabar ini menjadi sorotan publik, terlebih setelah desakan pergantian Kapolri semakin kencang pasca sejumlah insiden …
- Desakan agar Kapolri Listyo Sigit Prabowo diganti bermula dari insiden kecelakaan tragis yang menewaskan Affan Kurnia…
Topikseru.com – Usai Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet beberapa waktu lalu, beredar kabar akan ada pergantian Kapolri.
Saat ini, Presiden telah mengirim surat resmi (Supres) ke DPR RI mengenai pergantian Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Kabar ini menjadi sorotan publik, terlebih setelah desakan pergantian Kapolri semakin kencang pasca sejumlah insiden yang melibatkan aparat kepolisian.
Desakan agar Kapolri Listyo Sigit Prabowo diganti bermula dari insiden kecelakaan tragis yang menewaskan Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, akibat tertabrak mobil anggota Brimob pada akhir Agustus 2025.
Selain itu, publik juga menyoroti kegagalan aparat dalam mengamankan demonstrasi besar-besaran di Jakarta dan beberapa daerah pada akhir Agustus hingga awal September.
Aksi tersebut menewaskan sedikitnya 10 orang, sehingga memicu gelombang kritik terhadap kepemimpinan Kapolri saat ini.
Sejak dilantik pada 27 Januari 2021, Jenderal Listyo Sigit Prabowo diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi institusi Polri. Namun, berbagai insiden yang terjadi belakangan dinilai melemahkan kepercayaan publik terhadap kepolisian.
Siapa Saja Jenderal Potensial Pengganti Listyo Sigit?
Saat ini terdapat 27 perwira tinggi Polri berpangkat Komjen (Komisaris Jenderal) yang berpeluang besar menggantikan Listyo Sigit. Nama-nama ini merupakan lulusan berbagai angkatan Akademi Kepolisian (Akpol) dengan rekam jejak panjang, baik di internal Polri maupun di lembaga negara lainnya.
Berikut daftar lengkap jenderal potensial:
Komjen Ahmad Dofiri – Wakapolri, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Dedi Prasetyo – Irwasum Polri, Akpol 1990, usia 56 tahun
Komjen Mohammad Fadil Imran – Kabaharkam Polri, Akpol 1991, usia 56 tahun
Komjen Wahyu Widada – Kabareskrim Polri, Akpol 1991, usia 55 tahun
Komjen Syahar Diantono – Kabaintelkam Polri, Akpol 1991, usia 55 tahun
Komjen Chryshnanda Dwilaksana – Kalemdiklat Polri, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Imam Widodo – Dankorbrimob Polri, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Akhmad Wiyagus – Asisten Kapolri Bidang Operasi, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Wahyu Hadiningrat – Asrena Kapolri, Akpol 1992, usia 54 tahun
Komjen Marthinus Hukom – Kepala BNN, Akpol 1991, usia 56 tahun
Komjen Eddy Hartono – Kepala BNPT, Akpol 1990, usia 57 tahun
Komjen Albertus Rachmad Wibowo – Wakil Kepala BSSN, Akpol 1993, usia 56 tahun
Komjen RZ Panca Putra Simanjuntak – Sestama Lemhannas, Akpol 1990, usia 56 tahun
Komjen Tomsi Tohir Balaw – Sekjen Kemendagri, Akpol 1990, usia 56 tahun
Komjen Rudy Heriyanto Adi Nugroho – Sekjen KKP, Sepa Polri 1993, usia 57 tahun
Komjen Nico Afinta – Sekjen Kemenkumham, Akpol 1992, usia 53 tahun
Komjen Reynhard Saut Poltak Silitonga – Irjen Kemenkumham, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen I Ketut Suardana – Irjen BP2MI, Akpol 1990, usia 57 tahun
Komjen Putu Jayan Danu Putra – Irjen Kemendag, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Tornagogo Sihombing – Irut Setjen DPR, Akpol 1990, usia 57 tahun
Komjen Yan Sultra Indrajaya – Irjen Imigrasi dan Pemasyarakatan, Akpol 1989, usia 56 tahun
Komjen Makhruzi Rahman – Sekretaris BNPP Kemendagri, Akpol 1992, usia 56 tahun
Komjen Pudji Prasetijanto Hadi – Sekjen ATR/BPN, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Djoko Poerwanto – Irjen Kehutanan, Akpol 1989, usia 57 tahun
Komjen Raden Prabowo Argo Yuwono – Irjen UMKM, Akpol 1991, usia 57 tahun
Komjen Mohammad Iqbal – Sekjen DPD RI, Akpol 1991, usia 55 tahun
Komjen Rudi Darmoko – Kapolda NTT, Akpol 1991, usia 52 tahun
Dari deretan nama di atas, informasi yang beredar menyebut bahwa beberapa nama perwira tinggi sudah masuk daftar yang diajukan Istana kepada DPR.
Komjen Suyudi Ario Seto: Bintang Baru di Bursa Kapolri
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Komjen Suyudi Ario Seto, lulusan Akpol 1994, yang baru saja mendapat kenaikan pangkat pada 12 September 2025.
Karier panjangnya di bidang reserse dan kepemimpinan wilayah membuatnya dipandang sebagai figur potensial untuk memimpin Polri.
Mulai dari Kapolsek Metro Tanah Abang, Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, hingga menjabat Kapolda Banten, Suyudi dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpengalaman dalam menangani persoalan kriminalitas perkotaan.
Komjen Dedi Prasetyo: Wakapolri dengan Rekam Jejak Komunikasi Publik
Nama lain yang tidak kalah kuat adalah Komjen Dedi Prasetyo, yang baru saja ditunjuk sebagai Wakapolri menggantikan Ahmad Dofiri.
Dedi memiliki pengalaman panjang di Mabes Polri, pernah menjabat sebagai Kadiv Humas Polri, Kapolda Kalteng, hingga Asisten Kapolri Bidang SDM. Rekam jejaknya yang banyak bersentuhan dengan komunikasi publik dinilai bisa membawa Polri lebih transparan dan dekat dengan masyarakat.
Rudy Heriyanto dan Rudi Darmoko Muncul sebagai Favorit
Selain dua nama di atas, kini muncul pula kejutan baru dalam bursa calon Kapolri. Dua sosok yang menjadi perbincangan hangat publik adalah Komjen Rudy Heriyanto Adi Nugroho dan Irjen Rudi Darmoko.
Komjen Rudy Heriyanto Adi Nugroho
Lahir pada 17 Maret 1968
Bukan lulusan Akpol, melainkan Sepa Polri angkatan 1993
Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Rudy dikenal publik sebagai jenderal bersih, profesional, dan independen. Statusnya sebagai perwira non-Akpol membuatnya sering dipandang sebagai figur yang mampu membawa perspektif segar dalam kepemimpinan Polri.
Irjen Rudi Darmoko
Lahir pada 7 Desember 1971
Saat ini menjabat sebagai Kapolda NTT
Meski masih berpangkat Irjen, namanya mencuat sebagai kandidat potensial
Rudi Darmoko dikenal karena kepemimpinannya yang solid di wilayah rawan seperti Nusa Tenggara Timur. Publik membandingkan potensinya dengan kasus serupa pada masa lalu ketika Timur Pradopo mendapat promosi cepat menjadi Kapolri meski saat itu belum lama berpangkat Komjen.
Kedua nama ini banyak diperbincangkan di media sosial, terutama di platform X (Twitter), di mana publik menilai mereka sebagai alternatif segar di luar lingkaran elite yang selama ini mendominasi bursa Kapolri.
Reformasi Polri: Lebih dari Sekadar Pergantian Kapolri
Meski pergantian Kapolri menjadi isu panas, banyak pengamat menilai bahwa reformasi Polri tidak bisa hanya berhenti pada pergantian figur.
Bambang Rukminto dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menekankan bahwa perubahan mendasar harus dimulai dari struktur dan tata kelola Polri, termasuk revisi UU Polri.
Menurutnya, jika pergantian Kapolri hanya untuk meredakan tekanan politik tanpa menyentuh masalah substansial, hal tersebut tidak akan membawa perubahan berarti.
Kini, publik menanti sikap resmi Presiden Prabowo Subianto. Apakah benar surat pergantian Kapolri sudah dikirim ke DPR, dan siapa nama yang akan dipilih menjadi orang nomor satu di tubuh Polri.
Dua kandidat kuat, Komjen Suyudi Ario Seto dan Komjen Dedi Prasetyo, sama-sama memiliki pengalaman panjang dan rekam jejak yang mumpuni. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden sebagai pemegang hak prerogatif.
Situasi ini menjadi momentum penting bagi Polri untuk memperbaiki citra dan kembali memperoleh kepercayaan publik, sekaligus menunjukkan bahwa institusi kepolisian siap menghadapi tantangan di era pemerintahan baru. (*)













