Topikseru.com – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan biaya impor energi nasional.
Pakar Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, menilai pelemahan kurs rupiah akan berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Menurut Hamid, kondisi tersebut sulit dihindari karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
“Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujar Hamid dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Rupiah Melemah Sentuh Rp 17.529 per dolar AS
Pada pertengahan Mei 2026, kurs rupiah tercatat terus tertekan dan sempat menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS.
Bahkan pada penutupan perdagangan Kamis (14/5/2026), rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS.
Kondisi ini dinilai memperberat biaya impor minyak karena transaksi energi global mayoritas menggunakan mata uang dolar AS.
Indonesia Masih Jadi Net Importir Minyak
Hamid menjelaskan Indonesia telah menjadi net importir minyak sejak 2004.
Saat ini kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 650 ribu barel per hari.
Artinya, lebih dari separuh kebutuhan energi nasional harus dipenuhi melalui impor.
“Impor tentu dibeli dengan valuta asing, dalam hal ini dolar AS,” katanya.
Harga Minyak Dunia Juga Naik
Tekanan terhadap sektor energi nasional tidak hanya berasal dari pelemahan rupiah.
Harga minyak dunia saat ini juga tercatat berada di kisaran 105 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
Sementara asumsi kurs dalam APBN 2026 dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama dari harga minyak dunia, kemudian dari kurs,” ujar Hamid.
BBM Nonsubsidi Dinilai Berpotensi Naik
Dengan kombinasi harga minyak dunia yang tinggi dan pelemahan rupiah, Hamid menilai badan usaha energi termasuk Pertamina berpotensi kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.
Menurut dia, mekanisme penyesuaian harga sudah menjadi bagian dari sistem pasar yang berlaku dalam beberapa tahun terakhir.
“Begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,” ujarnya.
Dia menambahkan, apabila penyesuaian harga tidak dilakukan, tekanan finansial terhadap badan usaha energi akan semakin berat karena biaya impor melonjak tajam.
Masyarakat Dinilai Mulai Memahami Mekanisme Pasar
Hamid juga menilai tingkat pemahaman masyarakat terkait mekanisme harga BBM nonsubsidi kini semakin baik.
Karena itu, perubahan harga BBM nonsubsidi dalam beberapa tahun terakhir dinilai tidak lagi memicu gejolak besar di masyarakat.
“Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar,” katanya.












