Topikseru.com, Jakarta – Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menegaskan posisi Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tingkat kemitraan tertinggi yang dimiliki Korea Selatan.
Pernyataan itu disampaikan Lee saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Rabu.
Hubungan Khusus yang Tak Dimiliki Negara Lain
Lee menyebut hubungan antara kedua negara telah mencapai level yang tidak dimiliki Korea Selatan dengan negara lain di dunia.
“Republik Korea hanya memiliki satu hubungan seperti ini dengan negara mana pun di dunia,” kata Lee, dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden.
Pernyataan ini menegaskan betapa strategisnya posisi Indonesia dalam peta diplomasi dan kerja sama global Korea Selatan.
Investasi dan Industri Jadi Pilar Utama
Dalam pertemuan tersebut, Lee menyoroti berbagai sektor kerja sama yang telah terjalin kuat, mulai dari investasi hingga pengembangan industri strategis.
Ia menyebut Indonesia sebagai:
- tujuan utama investasi perusahaan Korea
- mitra penting dalam pengembangan industri pertahanan
- pusat kolaborasi masa depan, termasuk kendaraan listrik
Kerja sama kendaraan listrik menjadi salah satu simbol nyata hubungan kedua negara yang terus berkembang, seiring tren global menuju energi bersih.
Lebih dari 50 Tahun Hubungan Diplomatik
Menurut Lee, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan yang telah berlangsung lebih dari lima dekade menjadi fondasi kuat bagi kemitraan saat ini.
“Kita telah menjadi sahabat yang saling percaya dan mitra yang berharga,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, kedua negara memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat kerja sama ekonomi.
Harapan ke Depan
Presiden Lee turut menyampaikan apresiasi atas kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Seoul. Ia berharap hubungan bilateral kedua negara terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pernyataan ini mempertegas arah baru hubungan Indonesia – Korea Selatan yang tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga strategis dalam menghadapi tantangan global ke depan.













