Politik

Prabowo Sebut Pasar Indonesia Bisa Saingi Eropa, Soroti Besarnya SDA dan Rendahnya Rasio Pendapatan Negara

×

Prabowo Sebut Pasar Indonesia Bisa Saingi Eropa, Soroti Besarnya SDA dan Rendahnya Rasio Pendapatan Negara

Sebarkan artikel ini

Presiden Paparkan Potensi Besar Ekonomi Indonesia di DPR

Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto menyebut pasar domestik Indonesia berpotensi sebesar Eropa didukung bonus demografi dan kekayaan SDA seperti nikel, batu bara, dan sawit.

Topikseru.com – Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia memiliki potensi ekonomi domestik yang sangat besar dan bahkan disebut dapat menyamai pasar kawasan Eropa. Pernyataan itu disampaikan saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Menurut Prabowo, kekuatan ekonomi nasional ditopang oleh bonus demografi, tingginya konsumsi domestik, serta melimpahnya sumber daya alam strategis yang dimiliki Indonesia.

“Kita memiliki bonus demografi yang menopang konsumsi domestik dan pasar domestik yang besar. Pasar kita bisa sebesar Eropa,” ujar Prabowo di hadapan anggota DPR RI.

SDA Indonesia Disebut Jadi Kekuatan Strategis

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan Indonesia memiliki komoditas unggulan yang bernilai tinggi di pasar global.

Beberapa sektor strategis yang disoroti antara lain:

  • Batu bara
  • Nikel
  • Tembaga
  • Minyak kelapa sawit
  • Logam tanah jarang
  • Kekayaan hasil laut

Presiden menyebut posisi Indonesia saat ini masih menjadi pemain utama dalam perdagangan sejumlah komoditas dunia.

Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan devisa ekspor mencapai 23 miliar dolar AS atau sekitar Rp 391 triliun sepanjang 2025.

Selain itu, Indonesia juga menjadi eksportir batu bara terbesar dunia dengan nilai devisa mencapai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp 510 triliun.

Tak hanya itu, Indonesia kini disebut telah menjadi eksportir ferro alloys atau paduan besi terbesar dunia dengan devisa sekitar 16 miliar dolar AS atau setara Rp 272 triliun.

“Tiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.100 triliun per tahun,” kata Prabowo.

Prabowo Soroti Rendahnya Rasio Pendapatan Negara

Meski optimistis terhadap potensi ekonomi nasional, Presiden juga menyoroti masih rendahnya rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurutnya, rasio pendapatan negara Indonesia yang berada di kisaran 11 hingga 12 persen masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara berkembang lain.

Prabowo menyebut beberapa negara seperti Meksiko, India, Filipina, hingga Kamboja memiliki rasio penerimaan negara yang lebih tinggi dibanding Indonesia berdasarkan data Dana Moneter Internasional atau IMF.

Selain itu, Presiden juga menyinggung rasio belanja negara terhadap PDB Indonesia yang disebut menjadi salah satu yang terendah di antara negara anggota G20.

Pemerintah Diminta Introspeksi Pengelolaan Ekonomi

Dalam pidatonya, Prabowo mengajak seluruh pihak melakukan introspeksi terhadap tata kelola ekonomi nasional.

Ia mempertanyakan mengapa Indonesia yang memiliki sumber daya melimpah masih tertinggal dari sejumlah negara lain dalam hal optimalisasi pendapatan negara.

“Kita harus introspeksi dan sadar. Kenapa kita tidak bisa mengelola ekonomi sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara lain,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal pemerintah untuk memperkuat reformasi fiskal, optimalisasi penerimaan negara, serta meningkatkan nilai tambah komoditas nasional di tengah persaingan ekonomi global.

Pemerintah Fokus Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Paparan KEM-PPKF 2027 yang disampaikan Presiden menjadi bagian dari arah kebijakan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Selain mengandalkan komoditas strategis, pemerintah juga menargetkan penguatan industri hilirisasi, peningkatan investasi, dan perluasan pasar domestik sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia dalam beberapa dekade ke depan, pemerintah optimistis pasar domestik akan menjadi kekuatan utama menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *