Nasional

MUI Bentuk Crisis Center untuk Kawal Pembebasan 9 WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza

×

MUI Bentuk Crisis Center untuk Kawal Pembebasan 9 WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza

Sebarkan artikel ini
crisis center MUI
Ilustrasi - Kapal Global Sumud Flotilla telah berlayar dari Tunis menuju Gaza pada Selasa (16/9/2025) lalu. Ribuan aktivis dari seluruh dunia berlayar menuju Gaza untuk membuka blokade dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sejumlah relawan membentangkan bendera Indonesia di atas kapal yang akan diberangkatkan ke Gaza.(Foto: Topikseru.com/ adararelief.com)

Topikseru.com, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk crisis center untuk mengawal proses pembebasan Aktivis Kemanusiaan, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), yang disebut diculik Israel saat menjalankan misi bantuan kemanusiaan menuju Gaza.

Langkah tersebut diumumkan usai konsolidasi bersama sejumlah organisasi masyarakat Islam dan lembaga filantropi di Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).

MUI Minta Dukungan Presiden Prabowo

Ketua MUI Bidang Ukhuwah, Muhammad Zaitun Rasmin, mengatakan crisis center dibentuk untuk menampung berbagai informasi dan masukan, termasuk dari keluarga para korban.

“MUI menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo dan membentuk crisis center untuk menampung masukan misalnya dari keluarga-keluarga korban,” ujar Zaitun Rasmin.

Menurut dia, crisis center tersebut juga bertujuan memperkuat dukungan moral dan diplomasi bagi upaya pembebasan para aktivis kemanusiaan.

Zaitun menyebut pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terkait perkembangan situasi.

Dia juga membuka kemungkinan meminta pertemuan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto apabila proses pembebasan tidak segera terealisasi.

“MUI akan meminta bertemu dengan Bapak Presiden Prabowo Subianto bila masalah ini tidak kunjung selesai,” katanya.

Surat Diplomatik Disiapkan untuk Lembaga Internasional

Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Erick Yusuf, mengatakan MUI telah menyiapkan surat resmi yang akan dikirim kepada berbagai lembaga Nasional dan internasional.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat jalur diplomasi dan advokasi kemanusiaan.

“Kita juga telah menyiapkan surat-surat resmi, bukan hanya kepada pimpinan nasional, tetapi juga kepada internasional,” ujar Erick Yusuf.

Dia berharap berbagai negara dan lembaga internasional dapat bersama-sama mendorong pembebasan para aktivis serta memastikan bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Gaza.

MUI Ajak Ormas dan Filantropi Bersatu

MUI juga mengajak berbagai organisasi Islam, lembaga filantropi, serta komunitas masyarakat untuk ikut mengawal gerakan kemanusiaan tersebut.

Menurut Erick Yusuf, fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan para aktivis kemanusiaan sekaligus membuka akses bantuan bagi warga Gaza.

“Mari bergabung, kalau bisa 24 atau 48 jam ini bisa selesai,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan keselamatan relawan yang terlibat dalam misi bantuan.

Sorotan terhadap Misi Kemanusiaan Gaza

Kasus yang melibatkan relawan kemanusiaan internasional menuju Gaza kembali memicu perhatian publik global, terutama terkait keamanan jalur distribusi bantuan dan perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan.

Berbagai organisasi kemanusiaan internasional sebelumnya juga telah menyerukan perlindungan terhadap relawan sipil yang menjalankan misi bantuan di wilayah konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *