Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan hari ini. Selasa (12/5/2026) Nilai Tukar Rupiah di pasar spot anjlok di pasar spot.
Nilai tukar rupiah spot ditutup di level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,66% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.414 per dolar AS.
Ini jadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Pada perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.535 per dolar AS pada 14.28 WIB.
Hingga pukul 15.00 WIB, hampir seluruh mata uang di Asia melemah.
Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 1,11%
Selanjutnya, peso Filipina ditutup ambles 0,56% dan rupee India tertekan 0,43%. Disusul, baht Thailand yang terkoreksi 0,39%
Berikutnya ada dolar Singapura tergelincir 0,33% dan dolar Taiwan ditutup turun 0,28%. Lalu ada ringgit Malaysia tergelincir 0,25%
Kemudian ada yen Jepang yang turun 0,2% serta dolar Hong Kong melemah tipis 0,003% terhadap the greenback.
Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mat uang di Asia yang menguat setelah naik tipis 0,003%.
Nilai Tukar Rupiah anjlok 0,54% Tembus ke Level Rp17.500 Per Dolar AS Pagi Ini
Awal perdagangan hari ini. Selasa (12/5/2026) nilai tukar rupiah di pasar spot akhirnya tembus ke Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS)
Di pasar spot pagi ini nilai tukar rupiah bertengger di level Rp 17.508 per dolar AS.
Posisi tersebut adalah level paling lemah bagi nilai tukar rupiah sepanjang masa.
Dan membawa nilai tukar rupiah anjlok 0,54% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.414 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,82%. Disusul, peso Filipina yang ambles 0,49%.
Selanjutnya ada yen Jepang terkoreksi 0,24% dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,2%. Lalu ada baht Thailand yang tertekan 0,18%.
Berikutnya, dolar Singapura tergelincir 0,16% dan dolar Taiwan melemah tipis 0,03%.
Sementara itu, yuan China menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik 0,03%.
Kemudian, dolar Hong Kong terlihat melemah menguat tipis 0,004% terhadap the greenback di pagi ini.
Pelemahan mata uang Garuda tersebut dinilai dipicu kombinasi tekanan eksternal dan persoalan fundamental domestik.
Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah.
Menurut dia, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
“(Sentimen utamanya) Harga minyak dan fiscal crack kita,” ujar Ferry.
Pelaku pasar pun belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi.
Yang mana tercatat Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61% YoY.
Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal sebelumnya sebesar 5,39% YoY.
Ia menilai, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah.
Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026.












