Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (28/5/2026) Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan dekat level tertinggi dalam sepekan.
Setelah laporan Reuters menyebutkan AS kembali melancarkan serangan ke Iran yang menargetkan fasilitas militer.
Ketegangan terbaru tersebut memperumit proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran, sekaligus mendorong investor kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS.
- Kisah CEO Market Basket Arthur T Demoulas yang Dipecat karena Terlalu Baik: Karyawan Mogok Kerja, Pelanggan Boikot Toko
- Daftar Mata Uang Asia di Perdagangan Selasa (19/5/2026): Rupiah Tembus Rekor Terendah Baru ke Rp 17.700
- Ikan Penghuni Danau Toba Ini Kini Jadi Primadona Ekspor, Permintaan AS dan Eropa Melonjak
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya “tidak puas” dengan perkembangan pembicaraan terkait Iran.
Ia juga membantah laporan media pemerintah Iran yang menyebut Iran dan Oman akan bersama-sama mengelola jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Memudarnya harapan tercapainya solusi cepat membuat harga minyak kembali naik, sementara dolar AS menguat karena pasar mulai memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan lebih fokus memerangi inflasi di tengah tingginya harga energi.
Kepala strategi makro kuantitatif global Citi Alex Saunders mengatakan, risiko geopolitik dan ancaman inflasi masih menjadi perhatian utama pasar.
“Kami masih melihat pengurangan posisi underweight terhadap dolar AS,” ujarnya.
Euro turun tipis ke level US$ 1,1620, sedangkan poundsterling melemah 0,1% menjadi US$ 1,34176.
Mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia juga turun 0,2% ke posisi US$ 0,71305.
Sementara dolar Selandia Baru relatif stabil di level US$ 0,58965. Indeks dolar AS.
Yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat stabil di level 99,288, mendekati posisi tertinggi sejak 22 Mei lalu.
Pasar kini menanti rilis data inflasi inti personal consumption expenditures (PCE) AS, indikator inflasi favorit The Fed yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga ke depan.
Di Asia, yen Jepang melemah hingga menyentuh level 159,60 per dolar AS, posisi terendah sejak 30 April.
Dan semakin dekat dengan level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang di pasar valuta asing bulan lalu.
Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, intervensi sebelumnya memang memberi ruang bernapas sementara bagi pembuat kebijakan Jepang.
Namun efektivitas jangka panjangnya masih dipertanyakan. “Pertanyaan besarnya adalah apakah intervensi tersebut sepadan jika hanya memberikan efek sementara sekitar satu bulan.
Selain itu, apakah otoritas Jepang siap kembali menggelontorkan dana besar jika level 160 kembali ditembus,” ujarnya.
Data LSEG menunjukkan, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan 15–16 Juni mendatang.












