Topikseru.com, Jakarta – Pada akhir perdagangan Rabu (10/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 155,72 poin atau 2,71% ke 5.902,37 di pasar spot.
Ada sebanyak 571 saham naik, 148 saham turun dan 96 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral kompak menguat, menopang kenaikan IHSG.
Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor transportasi yang naik 4,51%, sektor teknologi naik 4,37% dan sektor properti naik 3,39%.
Dengan total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 46,01 miliar saham, dengan total nilai Rp 30,90 triliun.
Top gainers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) (9,71%)
2. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) (8,19%)
3. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) (7,86%)
Top losers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) (-5,81%)
2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) (-4,51%)
3. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) (-3,85%)
IHSG Melanjutkan Reli Naik 2,34% ke Level 5.881 Siang Ini
pada perdagangan sesi pertama Rabu (10/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli penguatannya setelah melonjak 7,57% sehari sebelumnya.
IHSG kembali melesat lebih dari 2% di tengah optimisme investor terhadap pasar domestik.
Berdasarkan data RTI, IHSG naik 2,34% atau 134,58 poin ke level 5.881,23. Sebanyak 543 saham menguat, 151 saham melemah, dan 118 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 31,7 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 19,9 triliun.
Seluruh indeks sektoral berada di zona hijau dan menopang penguatan IHSG. Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi yakni IDX-Techno yang melonjak 4,30%.
Disusul IDX-Finance sebesar 3,34%, dan IDX-Trans yang naik 3,18%.
Saham top gainers LQ45
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 12,14% ke Rp 314
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 8,73% ke Rp 1.805
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 7,65% ke Rp 3.520
Saham top losers LQ45
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 2,88% ke Rp 202
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) turun 2,37% ke Rp 1.850
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 2,05% ke Rp 1.195
Analis Pasar: IHSG Berpeluang Melanjutkan Penguatan dalam Jangka Pendek
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek setelah melonjak 7,57% ke level 5.746,65 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Kenaikan tajam tersebut terjadi setelah IHSG mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir.
Founder Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, keberhasilan IHSG kembali menembus level psikologis 5.500 menjadi sinyal positif bagi pasar.
Menurutnya, jika sentimen global membaik, Nilai Tukar Rupiah stabil, dan pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kepercayaan investor, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.000 hingga 6.300.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa tantangan ekonomi domestik masih cukup besar. Tingkat suku bunga yang tinggi berpotensi menekan permintaan kredit, memperlambat ekspansi usaha, dan mengurangi aktivitas konsumsi masyarakat.
Di saat yang sama, pelemahan daya beli masyarakat mulai menjadi perhatian karena kenaikan biaya hidup belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan pendapatan.
“Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, maka pertumbuhan ekonomi domestik dapat melambat dan berpengaruh terhadap kinerja emiten yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga,” ujar Hendra.
Dari sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama IHSG, investor juga perlu mencermati potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, beban cicilan rumah tangga maupun pelaku usaha meningkat sehingga risiko gagal bayar berpotensi bertambah, terutama pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta debitur yang bergantung pada konsumsi domestik.
Meski kualitas aset bank-bank besar saat ini masih relatif terjaga, pasar akan terus memantau apakah perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli mulai tercermin dalam peningkatan NPL pada beberapa kuartal mendatang.
Menurut Hendra, kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa investor asing masih cenderung berhati-hati meskipun valuasi saham perbankan saat ini telah jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, Hendra melihat kondisi pasar saat ini justru mulai membuka peluang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Pasalnya, banyak saham blue chip dengan fundamental kuat diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.
“Secara sederhana, pasar saat ini menawarkan banyak perusahaan berkualitas dengan harga diskon akibat tekanan sentimen,” katanya.
Namun, ia menyarankan investor tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus. Strategi akumulasi bertahap atau dollar cost averaging dinilai lebih tepat mengingat volatilitas pasar masih tinggi dan peluang koreksi jangka pendek masih terbuka.
Investor juga perlu lebih selektif dalam memilih emiten dengan neraca keuangan yang kuat, arus kas sehat, serta kemampuan menjaga profitabilitas di tengah perlambatan ekonomi.
Dari sisi sektoral, Hendra menilai sektor perbankan dan telekomunikasi masih menarik karena memiliki fundamental yang relatif kuat meski menghadapi tantangan siklus ekonomi.
Untuk sektor telekomunikasi, saham TLKM dinilai layak diperhatikan dengan target harga Rp 2.760 per saham. Emiten ini memiliki karakter defensif, arus kas yang stabil, serta didukung pertumbuhan kebutuhan layanan data yang terus meningkat.
Di sektor perbankan, BMRI menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 4.300 per saham karena memiliki tingkat pencadangan yang kuat dan kualitas aset yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata industri.












