Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan hari ini. Jumat (3/7/2026) nilai tukar rupiah langsung rebound dibuka di level Rp 17.945 per dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini membuat nilai tukar rupiah menguat 0,28% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.995 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,39%.
Disusul, peso Filipina yang terkerek 0,24%. Baca Juga: Obligasi Chandra Asri (TPIA) Senilai Rp 361 Miliar Akan Jatuh Tempo di September 2026 Selanjutnya ada baht Thailand terangkat 0,14% dan dolar Singapura menanjak 0,11%.
Lalu, yuan China naik 0,06%. Berikutnya, dolar Hong Kong menguat tipis 0,008% terhadap the greenback pada pagi ini.
Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,12%. Kemudian, yen Jepang turun 0,08% dan dolar Taiwan melemah tipis 0,05%.
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,25% di Level Rp 17.995 per Dolar AS
Prospek nilai tukar rupiah pada kuartal III-2026 diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi.
Melansir Bloomberg pada Jumat (3/7) pukul 13.00 WIB, rupiah bertengger di level Rp 17.960 atau menguat 0,19% dibanding hari sebelumnya.
Kendati demikian, lagi-lagi rupiah semakin mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pada Kamis (2/7/2026), Nilai Tukar Rupiah di pasar spot bahkan ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS.
Level ini melemah 0,25% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, harapan penguatan rupiah di sepanjang kuartal III-2026 sebenarnya mulai muncul karena permintaan dolar AS dari korporasi maupun masyarakat tidak lagi sebesar beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, arus modal asing juga mulai menunjukkan perbaikan, terutama di pasar obligasi. Namun, aliran dana asing ke pasar saham domestik masih relatif terbatas sehingga belum mampu memberikan dukungan yang kuat bagi rupiah.
“Harapannya memang rupiah bisa menguat pada kuartal ini. Namun, dengan dinamika yang terjadi saat ini akan cukup sulit karena faktor geopolitik dan sentimen eksternal masih sangat besar pengaruhnya,” ujar Lukman.
Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah memang belum sepenuhnya hilang. Meski penguatan dolar AS tidak lagi seagresif sebelumnya, berbagai faktor global masih membuat pelaku pasar berhati-hati menempatkan dana di aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam jangka pendek, perhatian pasar tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).
Risalah rapat The Fed yang dirilis sebelumnya dinilai memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor sehingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Kenaikan yield US Treasury tersebut kembali meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan memberikan tekanan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Selain itu, pasar juga mencermati data ketenagakerjaan AS, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP). Data NFP AS bulan Juni 2026 tercatat sebesar 57.000 pekerjaan, meleset jauh dari konsensus pasar yang memproyeksikan 110.000 pekerjaan.
Angka ini melambat tajam dari revisi turun 129.000 pekerjaan pada bulan Mei, sementara Tingkat Pengangguran turun tipis ke level 4,2%.
Menurut Lukman, pengalaman selama ini menunjukkan data NFP sering kali memicu pergerakan signifikan di pasar keuangan global. Bahkan, revisi terhadap data bulan-bulan sebelumnya kerap mengubah persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi AS.
Sentimen risk-off juga tercermin dari koreksi yang terjadi di pasar saham AS, terutama pada saham-saham sektor teknologi.
Pelemahan tersebut kemudian menjalar ke sejumlah bursa Asia, termasuk Korea Selatan, sehingga memperlihatkan bahwa minat investor terhadap aset berisiko masih melemah.
Mengenai peluang rupiah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, Lukman menilai level tersebut memang berpotensi disentuh apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Meski demikian, ia menegaskan level tersebut tidak boleh bertahan terlalu lama karena berisiko membentuk persepsi baru di pasar.
“Rupiah mungkin saja menyentuh Rp 18.000 per dolar AS. Namun jangan sampai bertahan terlalu lama di level itu. Kalau terlalu lama, pasar bisa menganggap Rp 18.000 sebagai level normal baru, dan selanjutnya bisa bergeser lagi ke Rp 19.000,” ujarnya.
Oleh karena itu, Lukman menilai Bank Indonesia (BI) perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen yang dimiliki. Menurutnya, masih terdapat ruang bagi BI untuk mengambil kebijakan yang lebih agresif apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.
“Menurut saya sebenarnya masih ada ruang sekitar 50 basis poin untuk menaikkan suku bunga apabila memang diperlukan demi menjaga stabilitas rupiah,” pungkasnya.












