Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan hari ini. Rabu (13/5/2026) Nilai Tukar Rupiah di pasar spot berhasil rebound di pasar spot
Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.515 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini membuat nilai tukar rupiah menguat 0,08% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.529 per dolar AS.
Hingga pukul 09.01 WIB, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,17%.
Selanjutnya ada dolar Taiwan tertekan 0,13% dan peso Filipina yang tergelincir 0,05%. Disusul, yen Jepang yang terlihat melemah tipis di pagi ini.
Sementara itu, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,22%.
Berikutnya, Ringgit Malaysia terkerek 0,13% dan yuan China terangkat 0,03%.
Kemudian ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,004% terhadap the greenback.
Rupiah Pecah Rekor Terburuk di Rp 17.529, Safe Haven Kembali Diburu Investor
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, Rabu (13/5/2026) pukul 09.07 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun tipis 0,03% ke level 98,27.
Sementara itu, rupiah di pasar spot menguat 0,08% ke Rp 17.515 per dolar AS pada awal perdagangan hari ini (13/5/2026).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan.
Bahkan, pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS, menjadi salah satu level terlemah sepanjang sejarah.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan, korelasi DXY dan rupiah saat ini cukup besar.
Ketika indeks dolar menguat, mayoritas mata uang emerging market, termasuk rupiah, cenderung tertekan karena arus modal global kembali masuk ke aset berbasis dolar AS.
“Saat ini dolar AS mendapat dukungan tambahan dari faktor geopolitik. Ketegangan AS dengan Iran dan ketidakpastian di Selat Hormuz membuat pasar kembali mencari aset aman,” ujar Bram kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).
Menurut Bram, selama tensi geopolitik dan harga energi masih tinggi, dolar AS berpotensi tetap kuat dalam jangka pendek.
Pasar juga masih menanti rilis data inflasi AS yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika inflasi AS bertahan tinggi, peluang The Fed mempertahankan suku bunga di level tinggi akan semakin besar dan menjadi sentimen positif bagi DXY.
Sebaliknya, apabila tensi geopolitik mulai mereda dan ekspektasi pemangkasan suku bunga meningkat, dolar AS berpotensi melemah secara bertahap.
“Untuk jangka pendek, DXY berpotensi bergerak di kisaran 98–101. Sementara pada semester I-2026, DXY masih berpotensi berada di area 99–102, terutama jika konflik Timur Tengah dan harga energi masih tinggi,” kata Bram.
Selain dolar AS, aset safe haven lain yang dinilai masih menarik adalah franc Swiss dan yen Jepang.
Yen Jepang dinilai cukup prospektif karena selain faktor safe haven, pasar juga mulai melihat peluang kebijakan Bank of Japan yang lebih hawkish.
Di sisi lain, otoritas Jepang dan AS disebut terus berkoordinasi menjaga stabilitas pasar mata uang, sehingga potensi intervensi turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Bram menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS secara global, kenaikan harga energi, serta sentimen risk-off akibat memanasnya geopolitik.
Namun demikian, faktor domestik juga mulai dicermati pasar, seperti kondisi cadangan devisa, kebutuhan impor energi, dan sensitivitas rupiah terhadap arus keluar modal asing.
“Faktor eksternal memang masih dominan, tetapi kondisi domestik membuat rupiah menjadi lebih rentan terhadap tekanan global,” ujar Bram.
Ia menambahkan, ketika tensi geopolitik meningkat dan dolar AS kembali diburu sebagai aset aman, mata uang emerging market seperti rupiah biasanya menjadi yang paling sensitif terhadap perubahan arus modal global.












