Sumut

Riset USU Ubah Mesin Diesel Jadi Lebih Bersih, Efisiensi Bisa Tembus 42%

×

Riset USU Ubah Mesin Diesel Jadi Lebih Bersih, Efisiensi Bisa Tembus 42%

Sebarkan artikel ini
Peneliti USU
Ilustrasi - Universias Sumaera Utara (USU). Foto: Humas USU

Topikseru.com, Medan – Upaya transisi menuju energi yang lebih bersih mendapat dorongan baru dari dunia akademik. Tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) menemukan pendekatan inovatif yang berpotensi mengubah wajah mesin diesel—dari identik dengan polusi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

Riset USU yang digawangi oleh Tulus Burhanuddin Sitorus dan Taufiq Bin Nur ini menggabungkan strategi bahan bakar ganda (dual-fuel), teknologi pembakaran canggih, serta pemanfaatan partikel nano (nano-additives). Hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Applied Energy.

Baca Juga  36.771 Peserta Rebut 3.008 Kursi di UTBK SNBT 2026 USU, Pengawasan Diperketat

Efisiensi Naik, Emisi Turun Signifikan

Dalam temuan tersebut, kombinasi amonia dan hidrogen mampu meningkatkan efisiensi termal mesin diesel hingga 42 persen dibandingkan penggunaan solar konvensional.

Tak hanya itu, pendekatan lain seperti penggunaan biodiesel dengan desain injektor khusus mampu meningkatkan efisiensi hingga 15 persen, sementara campuran metanol dalam sistem dual-fuel memberi tambahan sekitar 12 persen.

“Ini solusi yang tidak hanya visioner, tetapi juga realistis untuk negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Prof. Tulus, Kamis (23/4/2026).

Tidak Ada Bahan Bakar Sempurna

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa setiap jenis bahan bakar memiliki tantangan tersendiri. Biodiesel misalnya, mampu menekan emisi karbon monoksida, namun berpotensi meningkatkan nitrogen oksida (NOx).

Sementara hidrogen dikenal sangat bersih dari sisi emisi, tetapi sulit dikendalikan karena sifatnya yang sangat reaktif. Adapun alkohol seperti etanol dan metanol memiliki pembakaran lebih homogen, namun rentan mengalami keterlambatan penyalaan.

“Di sinilah letak inovasi kami, bukan memilih satu bahan bakar terbaik, tetapi mengombinasikannya agar saling melengkapi,” jelas Taufiq.

Peran Kunci Partikel Nano

Keunggulan lain dari riset ini terletak pada penggunaan nano-additives seperti aluminium oksida (Al2O3) dan cerium oksida (CeO2). Partikel berukuran sangat kecil ini berfungsi sebagai katalis yang meningkatkan kualitas pembakaran.

Dengan atomisasi bahan bakar yang lebih halus, pembakaran menjadi lebih sempurna. Dampaknya, emisi karbon monoksida dan hidrokarbon dapat ditekan lebih dari 20 persen, sekaligus meningkatkan efisiensi mesin secara signifikan.

Baca Juga  USU Fokus Riset Berdampak ke Industri, Targetkan Paten dan 20 Buku Akademik pada 2026

Solusi Realistis untuk Indonesia

Pendekatan ini dinilai relevan bagi Indonesia yang masih sangat bergantung pada mesin diesel, terutama di sektor transportasi, logistik, hingga perikanan.

Alih-alih mengganti seluruh infrastruktur, teknologi ini memungkinkan optimalisasi mesin yang sudah ada melalui modifikasi sistem bahan bakar.

Riset tersebut juga menghasilkan framework komprehensif yang memetakan hubungan antara jenis bahan bakar, proses pembakaran, dan emisi. Model ini dapat menjadi acuan global dalam pengembangan energi rendah karbon.

Potensi Implementasi di Dunia Nyata

Jika dikembangkan ke tahap industri, teknologi ini membuka peluang besar. Mulai dari truk logistik tanpa asap hitam, kapal nelayan berbahan bakar campuran, hingga industri di daerah terpencil yang lebih ramah lingkungan.

Lebih dari sekadar penelitian, inovasi ini menunjukkan bahwa solusi energi masa depan tidak selalu harus datang dari luar negeri.