Internasional

Iran Serang Pangkalan Militer AS di Yordania, Bahrain, dan Irak dengan Rudal dan Drone

×

Iran Serang Pangkalan Militer AS di Yordania, Bahrain, dan Irak dengan Rudal dan Drone

Sebarkan artikel ini
serangan Iran ke pangkalan AS
Ilustrasi. Ratusan rudal balistik telah ditembakkan Iran ke berbagai wilayah Israel. Foto: AFP

Topikseru.com – Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pada Jumat (13/3).

Serangan tersebut menargetkan pangkalan udara Muwaffaq Salti Air Base di Yordania serta fasilitas militer AS di Manama dan Erbil.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Iranian Students News Agency (ISNA), IRGC menyebut serangan dilakukan menggunakan rudal dan drone.

“Pangkalan Muwaffaq Salti, bersama dengan pangkalan AS di Manama dan Erbil, dihantam oleh rudal dan drone IRGC yang ampuh,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Bagian dari Operasi True Promise 4

IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-43 dan ke-44 dalam operasi militer yang mereka sebut Operation True Promise 4.

Operasi itu dilaporkan sebagai respons terhadap serangan militer yang sebelumnya dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di wilayah Iran.

Pada 28 Februari lalu, kedua negara tersebut melancarkan serangan terhadap beberapa lokasi di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Baca Juga  Pasca Mati Syahid, Kabarnya Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei Gantikan Pemimpin Tertinggi Iran

Iran Lakukan Serangan Balasan

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer mereka merupakan tindakan pencegahan terhadap ancaman yang diduga berasal dari program nuklir Iran.

Namun, kedua negara kemudian juga menyinggung kemungkinan perubahan kekuasaan di Iran sebagai bagian dari tujuan strategis mereka.

Kematian Ayatollah Khamenei

Dalam perkembangan konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer.

Pemerintah Republik Islam Iran kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Kematian Khamenei memicu reaksi keras dari sejumlah negara dan memicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.

Rusia Serukan De-Eskalasi

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam pembunuhan Khamenei dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Rusia menyerukan agar semua pihak segera melakukan de-eskalasi serta menghentikan permusuhan guna mencegah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.