Topikseru.com, Washington DC – Pentagon dilaporkan telah mengajukan rencana operasi militer berisiko tinggi untuk mengambil material uranium yang telah diperkaya dari Iran kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Laporan tersebut diungkap The Washington Post pada Rabu, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Operasi Kompleks dan Belum Pernah Terjadi
Rencana itu disebut disusun atas permintaan langsung Trump dan melibatkan operasi militer berskala besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Menurut sumber anonim, proses pengambilan uranium akan membutuhkan:
- pengerahan ratusan hingga ribuan personel militer
- penggunaan peralatan berat untuk menembus bunker bawah tanah
- ekstraksi material radioaktif dari lokasi yang dilindungi beton dan timbal
“Anda harus menembus beton dan pelindung timbal, lalu mencapai bagian dasar silo dan mengangkat kontainer material nuklir itu,” ujar sumber tersebut.
Operasi ini juga diperkirakan dilakukan melalui jalur udara, dengan tingkat risiko tinggi baik dari sisi teknis maupun keamanan.
Latar Belakang Konflik: Dari Serangan hingga Gencatan Senjata
Ketegangan antara Iran dan sekutunya meningkat sejak serangkaian konflik bersenjata dalam beberapa tahun terakhir.
- Pada 13 Juni, Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tuduhan program nuklir militer
- Iran membalas, memicu konflik bersenjata selama 12 hari
- Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni
- Iran merespons dengan menyerang pangkalan AS Al Udeid di Qatar
Konflik tersebut akhirnya mereda setelah Trump mengumumkan gencatan senjata pada 23 Juni.
Namun, ketegangan kembali meningkat pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan lanjutan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran.
Risiko Global dan Implikasi Geopolitik
Rencana Pentagon ini menandai eskalasi baru dalam pendekatan Amerika Serikat terhadap isu nuklir Iran.
Jika dijalankan, operasi ini berpotensi:
- memicu konflik terbuka di kawasan Timur Tengah
- meningkatkan ketegangan antara kekuatan global
- mengganggu stabilitas energi dan keamanan internasional
Selain itu, kompleksitas teknis operasi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai kelayakan dan dampak jangka panjangnya.













