Topikseru.com, Medan – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dengan Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu berbeda keterangan soal seorang Ibu Hamil ditandu bambu sejauh 30 kilometer.
Menurut menantu Jokowi, persoalan bukan di fasilitas kesehatan, melainkan infrastruktur jalan.
Ruas jalan yang rusak dalam video tersebut disebut milik Pemkab Tapsel. Sedangkan ruas jalan provinsi penghubung di sekitar wilayah itu bakal diperbaiki tahun 2026.
“Ruas jalan provinsi ada di dekat situ dan sudah dianggarkan tahun ini. Namun, kita belum mengetahui apakah jalan yang viral itu sudah dianggarkan atau tidak oleh Pemkab Tapsel,” kata Bobyy, Rabu (13/5/2026).
Dari sisi fasilitas kesehatan, Pemprov Sumut telah menyiapkan anggaran untuk membantu adanya rawat inap di Puskesmas.
“Program itu seharusnya dilaksanakan tahun 2027, namun dipercepat menjadi tahun ini karena pemangkasan dana transfer ke daerah (TKDK) dibatalkan presiden,” sebut Bobby.
Ia menegaskan persoalan infrastruktur di jalan tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
“Boleh dicek. Saya sampaikan kemarin tolong kabupaten/kota Puskesmas-nya dibuat standarnya. Jika sudah memenuhi mencapai standar Pemprov Sumut bisa membantu menjandi Puskesmas rawat, karena sudah masuk program. Seharusnya dimulai tahun 2027, tapi dipercepat tahun ini karena ada bantuan TKD,” katanya.
Sementara itu, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menyatakan tidak memiliki kewenangan untuk membuka akses jalan di desa tersebut.
“Kita ada wewenang membuka akses jalan, karena desa itu masuk dalam kawasan hutan lindung,” kata Gus Irawan.
Menurutnya, untuk membuka jalan di hutan bekerjasama dengan TNI lewat program TMMD.
“Kita sudah rencanakan pada tahun 2025, tapi tidak diberi izin. Kalau izinnya dari Kehutanan,” katanya.
Kisah pilu dialami pasangan Rinto Aritonang dan Mastuti Daulay warga Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Dengan menempuh berjarak 30 kilometer, warga harus berjalan kaki membawa Mastuti Daulay untuk persalinan. Menggunakan tanda bamboo darurat, dengan waktu sekitar enam jam untuk sampai ke rumah sakit di Sipirok, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Tapanuli Selatan.
Lantaran akses jalan tak memadai hingga tak bisa dilalui kendaraan bermotor, terlebih lagi membawa orang melahirkan.
Setibanya di rumah sakit, dokter langsung melakukan penanganan persalinan melahirkan Mastuti Daulay.
Rasa haru dibalut gembira dirasakan sang suami Rinto Aritonang menanti kelahiran anaknya. Namun, kegembiraan menjadi ayah berujung nestapa setelah mengetahui anaknya meninggal dunia dalam kandungan.












