Topikseru.com, Jakarta – pada perdagangan hari ini (24/6/2026) nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini seiring meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS dan masih tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.952 per dolar AS, melemah 0,52% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.859 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun dari Rp 17.819 per dolar AS menjadi Rp 17.868 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,28% dalam sehari.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Washington dilaporkan memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran pasca pembicaraan perdamaian awal, yang membuka ruang bagi Iran untuk meningkatkan penjualan minyak.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda, termasuk di Lebanon.
Meski demikian, sejumlah isu krusial masih menyisakan ketidakpastian, antara lain terkait inspeksi program nuklir Iran dan akses terhadap dana Iran yang dibekukan.
Ketidakjelasan tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Selain itu, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter bank sentral AS. Menurut Ibrahim, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve kembali menguat setelah pertemuan kebijakan terakhir dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish.
“Saat ini pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sekitar 70% pada September dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan pada Desember,” ujar Ibrahim.
Fokus pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) AS yang dijadwalkan terbit pekan ini.
Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan kerap menjadi acuan dalam menentukan arah suku bunga.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Peninjauan yang diperpanjang itu dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada awal tahun.
Sebelumnya, MSCI sempat membekukan perubahan pada indeks saham Indonesia karena mempertimbangkan aspek investability dan kemudahan akses bagi investor asing.
“Perpanjangan masa evaluasi ini memberi waktu bagi regulator dan pelaku pasar untuk melakukan perbaikan yang diperlukan. Hasil peninjauan MSCI akan menjadi perhatian penting investor dalam beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II 2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Paket kebijakan tersebut mencakup berbagai insentif perpajakan, dukungan untuk sektor transportasi, penguatan sektor industri, serta perluasan program bantuan sosial.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas dunia usaha.
Kurs Melemah 0,58% Tersungkur di Level Rp17.965 per Dolar AS Pagi Ini
Pada perdagangan Rabu (24/6/2026) pagi kurs rupiah melemah berada di level Rp 17.965 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di mana kurs melemah 0,58% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.859 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini.
Tapi kurs rupiah memimpin pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS dengan pelemahan 0,58%, disusul baht Thailand yang melemah 0,43%.
Peso Filipina melemah 0,36%, won Korea melemah 0,18%, dolar Taiwan melemah 0,10%, ringgit Malaysia melemah 0,10% dan dolar Singapura melemah 0,03% terhadap dolar AS.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Yuan China menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,006% dan dolar Hong Kong menguat 0,004% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 101,41, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 101,40.
Analis Pasar: Pergerakan Kurs Rupiah Dipengaruhi Sentimen Pengumumam MSCI
Sementara, menurut Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off domestik, dengan investor cenderung berhati – hati mengantisipasi pengumuman MSCI dalam 1 hari sampai 2 hari ke depan.
Mata uang Asia juga pada umumnya melemah dan indeks dolar AS naik, dengan investor merespon negatif perkembangan seputar prospek perdamaian di timteng yang permanen.
“Rupiah mungkin masih akan tertekan selama sebelum pengumuman MSCI,” ujar Lukman.
Lukman menambahkan, pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen pengumumam MSCI. Investor juga akan terus memantau perkembangan seputar pembicaraan damai AS-Iran, dan situasi di Lebanon.
Sedangkan, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah melemah seiring dengan potensi meningkatnya inflasi.
Hal ini setelah Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional.
Menurutnya, tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan harga komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation.
Sentimennya Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang.
Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).












