Nasional

6 Fakta Tsunami Tanjung Lesung 2018 yang Kembali Diingat Saat Aktivitas Anak Gunung Krakatau Meningkat

×

6 Fakta Tsunami Tanjung Lesung 2018 yang Kembali Diingat Saat Aktivitas Anak Gunung Krakatau Meningkat

Sebarkan artikel ini
Erupsi Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda saat aktivitas vulkanik meningkat, mengingatkan pada tragedi tsunami Selat Sunda 2018.
Erupsi Anak Gunung Krakatau terlihat di kawasan Selat Sunda. Peningkatan aktivitas vulkanik kembali mengingatkan masyarakat pada tragedi tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018. Foto: Instagram BK Medan.

Topikseru.com  – Meningkatnya aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau dalam beberapa hari terakhir kembali mengingatkan masyarakat pada salah satu bencana paling memilukan di Selat Sunda, yakni tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung pada 22 Desember 2018.

Berbeda dengan kebanyakan tsunami yang dipicu gempa bumi, bencana tersebut terjadi akibat aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau yang memicu longsoran sebagian tubuh gunung ke laut.

Peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi sistem mitigasi bencana di Indonesia.

Berikut enam fakta yang perlu diketahui mengenai tragedi tsunami Tanjung Lesung 2018.

Tsunami Terjadi Tanpa Didahului Gempa Besar

Salah satu hal yang membuat tsunami Selat Sunda 2018 berbeda adalah tidak adanya gempa bumi besar yang menjadi pemicu.

Saat itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang tinggi akibat pasang laut.

Namun, karena tsunami dipicu aktivitas vulkanik, bukan gempa tektonik, sistem peringatan dini tsunami tidak aktif sehingga masyarakat tidak menerima peringatan evakuasi.

Dipicu Longsoran Lereng Anak Gunung Krakatau

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa tsunami dipicu oleh longsoran sebagian lereng Anak Gunung Krakatau yang terjadi setelah meningkatnya aktivitas erupsi.

Runtuhan material vulkanik ke laut menyebabkan perpindahan massa air dalam jumlah besar yang kemudian menghasilkan gelombang tsunami dan menghantam wilayah pesisir Selat Sunda.

Tanjung Lesung Menjadi Salah Satu Wilayah Terparah

Kawasan wisata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak paling besar.

Gelombang tsunami datang pada malam hari sehingga banyak wisatawan dan warga tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Selain permukiman warga, sejumlah hotel, restoran, pelabuhan, dan fasilitas wisata mengalami kerusakan.

Tragedi yang Menimpa Band Seventeen

Peristiwa ini juga dikenang karena menghantam panggung konser grup musik Seventeen yang sedang tampil di kawasan Tanjung Lesung.

Gelombang besar menerjang area konser secara tiba-tiba. Dalam tragedi tersebut, tiga personel Seventeen, yakni Herman Sikumbang (gitar), M. Awal Purbani (bass), dan Windu Andi Darmawan (drum), meninggal dunia bersama sejumlah kru. Kejadian itu menjadi salah satu momen paling menyita perhatian publik saat bencana berlangsung.

Menimbulkan Korban Jiwa dan Kerusakan Besar

Tsunami Selat Sunda menyebabkan ratusan korban jiwa serta ribuan warga mengalami luka-luka dan mengungsi.

Selain korban manusia, bencana ini juga merusak rumah warga, pelabuhan, jalan, hotel, hingga berbagai fasilitas umum di pesisir Banten dan Lampung.

Kerusakan infrastruktur sempat menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan kepada para korban.

Sektor pariwisata pun mengalami pukulan berat. PT Jababeka Tbk selaku pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung saat itu memperkirakan kerugian mencapai sekitar Rp150 miliar akibat rusaknya berbagai fasilitas wisata.

Menjadi Titik Balik Sistem Mitigasi Tsunami Indonesia

Tsunami Selat Sunda 2018 menjadi evaluasi besar bagi sistem mitigasi bencana nasional.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman tsunami tidak hanya berasal dari gempa bumi, tetapi juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api maupun longsoran bawah laut.

Sejak saat itu, pemerintah bersama para peneliti terus mengembangkan sistem pemantauan yang lebih mampu mendeteksi berbagai penyebab tsunami, termasuk yang berasal dari aktivitas vulkanik.

Meningkatnya aktivitas Anak Gunung Krakatau saat ini belum tentu mengarah pada bencana serupa.

Namun, pengalaman tahun 2018 menjadi pengingat penting bahwa masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu selalu mengikuti informasi resmi dari otoritas vulkanologi dan kebencanaan serta mematuhi seluruh rekomendasi terkait zona bahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *