Topikseru.com – Industri pertahanan dalam negeri, Republikorp Group, resmi memperluas kerja sama strategis dengan perusahaan pertahanan asal Turki, Baykar, dalam pengembangan pesawat tempur tanpa awak atau Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV).
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian pengembangan Bayraktar KIZILELMA UCAV dalam ajang SAHA 2026 yang berlangsung di Istanbul, Turki.
Kerja sama ini disebut menjadi langkah besar dalam memperkuat industri pertahanan Nasional sekaligus mempercepat penguasaan teknologi dirgantara modern di Indonesia.
Republikorp Targetkan Ekosistem Dirgantara Berkelanjutan
Pendiri Republikorp Group, Norman Joesoef, mengatakan kolaborasi bersama Baykar tidak hanya fokus pada produksi alutsista, tetapi juga membangun ekosistem aerospace dan sistem tanpa awak yang berkelanjutan.
Menurut Norman, kerja sama tersebut mencakup pengembangan produksi, perawatan pesawat, peningkatan sumber daya manusia, hingga riset teknologi pertahanan masa depan.
“Bersama Baykar, kami membangun ekosistem aerospace dan unmanned systems yang berkelanjutan, mulai dari produksi, maintenance, pengembangan SDM hingga riset teknologi masa depan,” ujar Norman dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/5/2026).
Pengembangan Bayraktar KIZILELMA Jadi Langkah Lanjutan
Norman menjelaskan, kemitraan ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025.
Sebelumnya, kedua pihak telah bekerja sama dalam produksi lokal Drone Tempur Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia. Kini, cakupan kerja sama diperluas menuju pengembangan UCAV generasi baru, termasuk Bayraktar KIZILELMA yang dikenal sebagai salah satu pesawat tempur tanpa awak canggih milik Turki.
Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal keseriusan Indonesia dalam memperkuat teknologi pertahanan udara berbasis sistem nirawak.
Fokus Transfer Teknologi dan Pengembangan SDM
Dalam kerja sama terbaru ini, terdapat sejumlah poin strategis yang akan dikembangkan bersama kedua negara.
Beberapa di antaranya meliputi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, pembangunan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.
Model kerja sama seperti ini dianggap penting karena tidak hanya berorientasi pada pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga memperkuat kapasitas industri nasional.
Pertahanan Udara Indonesia Ditargetkan Lebih Kuat pada 2028
Norman optimistis kolaborasi Indonesia dan Turki akan memberikan dampak besar terhadap kemampuan pertahanan udara nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Ia menyebut pengembangan UCAV bersama Baykar ditargetkan mulai memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia pada 2028 mendatang.
Selain itu, kerja sama ini juga mempertegas posisi Indonesia dan Turki sebagai mitra strategis dalam industri pertahanan global, khususnya di bidang inovasi teknologi dan pengembangan kapasitas nasional.
“Kerja sama ini mempertegas posisi Indonesia dan Turki sebagai mitra strategis industri pertahanan yang berorientasi pada transfer teknologi dan inovasi masa depan,” jelas Norman.
Indonesia Dorong Kemandirian Industri Pertahanan
Pengembangan pesawat tempur tanpa awak dinilai menjadi bagian dari upaya Indonesia mempercepat kemandirian industri pertahanan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi drone militer dan sistem tempur nirawak memang menjadi fokus banyak negara karena dinilai lebih efektif, fleksibel, dan memiliki kemampuan operasi modern yang lebih luas.
Dengan adanya transfer teknologi dari Turki, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu memproduksi dan mengembangkan teknologi pertahanan sendiri di masa depan.












