Ekonomi dan Bisnis

PMN Rp 4,5 Triliun untuk PELNI Dipantau DPR, Kapal Berusia 40 Tahun Diganti

×

PMN Rp 4,5 Triliun untuk PELNI Dipantau DPR, Kapal Berusia 40 Tahun Diganti

Sebarkan artikel ini
PMN PELNI Rp 4,5 Triliun
DPR RI memantau penggunaan PMN Rp 4,5 triliun untuk pembaruan armada PELNI. Foto: Humas PELNI
Intinya Sih
  • PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI mulai mempercepat proyek pembaruan armada kapal penumpang se mendapatkan dukungan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp4,5…
  • Komisi XI DPR RI pun turun langsung melakukan monitoring terhadap progres penggunaan dana negara tersebut.
  • Kunjungan kerja dilakukan di atas KM Kelimutu yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jumat (19/6/2026).
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI)

Topikseru.com, Surabaya – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI mulai mempercepat proyek pembaruan armada kapal penumpang setelah mendapatkan dukungan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp4,5 triliun. Komisi XI DPR RI pun turun langsung melakukan monitoring terhadap progres penggunaan dana negara tersebut.

Kunjungan kerja dilakukan di atas KM Kelimutu yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jumat (19/6/2026). Agenda ini difokuskan untuk memastikan penggunaan PMN berjalan sesuai rencana sekaligus mendukung modernisasi armada transportasi laut nasional.

Delegasi DPR dipimpin Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Ahmad Hanif Dhakiri bersama sejumlah anggota dewan. Hadir pula jajaran Direksi PELNI, perwakilan Kementerian Keuangan, hingga Badan Pengelola Investasi Danantara.

Armada Tua Jadi Sorotan

Program pembaruan kapal menjadi isu mendesak mengingat sebagian armada PELNI telah beroperasi lebih dari empat dekade.

Tiga kapal yang akan diganti melalui pendanaan PMN yakni KM Umsini dan KM Kelimutu yang sama-sama dibangun pada 1985, serta KM Lawit yang mulai beroperasi pada 1986.

Artinya, usia ketiga kapal tersebut kini sudah menyentuh 40 tahun lebih.

Kondisi itu dinilai menjadi tantangan serius di tengah meningkatnya kebutuhan transportasi laut antarpulau di Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

“Pelayanan kapal PELNI sudah baik. Namun kita juga melihat bahwa sebagian armada yang ada saat ini merupakan kapal yang usianya sudah cukup tua,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hanif Dhakiri.

PMN Rp 4,5 Triliun untuk Tiga Kapal Baru

Pemerintah sebelumnya telah mengalokasikan PMN sebesar Rp 1,5 triliun pada 2024 sebagai uang muka pengadaan kapal baru.

Kemudian dilanjutkan tambahan PMN Rp 2,5 triliun pada 2025 untuk proses pelunasan pengadaan armada.

PELNI juga menyiapkan pendanaan internal sebesar Rp 500 miliar sehingga total investasi pembangunan tiga kapal baru mencapai Rp 4,5 triliun.

Menurut Hanif, dukungan PMN diberikan karena pembaruan armada dinilai penting untuk menjaga kualitas pelayanan publik dan konektivitas nasional.

“Yang terpenting bagi kami adalah memastikan PMN yang diberikan pemerintah digunakan sesuai rencana, menghasilkan output yang baik, serta memberikan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Proses Desain Masuk Tahap Awal

Direktur Armada dan Teknik PELNI Kokok Susanto menjelaskan proyek saat ini telah memasuki tahap persiapan desain kapal.

Tahap tersebut menjadi fondasi penting sebelum pembangunan fisik dimulai.

“Konsultan desain telah ditunjuk dan saat ini kami sedang mempersiapkan berbagai spesifikasi teknis yang akan menjadi dasar pembangunan kapal,” kata Kokok.

Ia menyebut proses desain diperkirakan memakan waktu sekitar 17 bulan sebelum masuk tahap konstruksi.

PELNI menargetkan kapal-kapal baru nantinya memiliki standar lebih modern, efisien, aman, dan nyaman dibanding armada lama yang saat ini beroperasi.

Strategi Perkuat Konektivitas Nasional

Modernisasi armada PELNI dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung pemerataan ekonomi nasional.

Transportasi laut masih menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan, khususnya kawasan Indonesia Timur.

Dengan bertambahnya kapasitas dan kualitas armada baru, pemerintah berharap akses antarpulau semakin terjangkau sekaligus memperkuat distribusi logistik nasional.

PELNI juga menilai pembaruan kapal akan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dalam jangka panjang.

“Monitoring yang dilakukan Komisi XI dan Kementerian Keuangan merupakan bentuk pengawasan yang sangat positif,” ujar Kokok.

Menurutnya, pengawasan tersebut menjadi dorongan agar seluruh proses pembangunan kapal berjalan tepat waktu, transparan, dan akuntabel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *